Acara pawai berlangsung dengan tertib dan meriah. Ini pertama kalinya Nathaniel mengikuti serangkaian tradisi Argata yang memiliki acara unik, berbeda dari kerajaan lain. Seperti pawai kereta kuda ini. Meski mirip seperti pawai kerajaan Nathaniel (tetapi di Dirgata mereka memakai mobil) tapi tetap vibes-nya berbeda karena baru kali ini Nathaniel naik kereta kuda dengan kap terbuka, sehingga ia bisa melihat suasana pawai yang meriah dan para rakyat yang menyaksikan mereka di setiap sisi jalan. Nathaniel dengar, Raja Argata terdahulu sengaja membuat pawai seperti ini agar sang raja bisa bertegur sapa dan bertemu langsung dengan rakyatnya. Bertemu langsung dengan Raja adalah hal mustahil bagi para rakyat. Maka diadakan acara seperti ini agar para rakyat Argata diberi kesempatan untuk bertemu dengan Raja mereka. Kesempatan yang tidak jarang datang ini tentu sangat dinantikan oleh para rakyat.
Apalagi pawai itu diikuti oleh tamu-tamu bangsawan raja dari kerajaan lain. Menambah dinanti para rakyat untuk menonton acara itu.
Sejak tadi, Nathaniel tidak pernah sedetikpun tidak mendengar nama Felix diteriaki oleh rakyat Argata. Kondisi kereta yang terbuka tentu membuat Nathaniel bisa melihat bagaimana mereka berseru senang sambil meneriaki nama Felix berulang kali. Apalagi posisi kereta Felix dan Nathaniel yang berada di belakang kereta Oliver dan Ethan. Sehingga seruan itu tak pernah terputus dan terus bersambung dari mengagungkan Oliver dan Ethan menjadi pekikkan senang melihat Felix.
Padahal para rakyat pun tak henti-henti meneriaki nama Nathaniel—tapi pria itu tidak ngeh sama sekali karena terlalu fokus dengan Felix.
"Lo cukup terkenal juga ya, Yang Mulia." Nathaniel berbisik pelan saat kereta kuda mereka kembali ke halaman istana. "Dari tadi para gadis engga berhenti neriakin nama lo."
"Perlu lo tahu prince status sosial gue termasuk yang tinggi juga di Argata." Felix membalas. "Mungkin mereka suka sama ketampanan gue?"
"Dih?" Nathaniel refleks mencibir mendengar ucapan terakhir Sang Raja yang begitu percaya diri. "Percaya diri banget lo?"
"Emang gue ganteng kan? " Alisnya terangkat dengan tubuh menyondong sedikit menyerong agar berhadapan langsung dengan Nathaniel yang sudah mendorong tubuh Sang Raja untuk menjaga jarak. Jika tidak berada di ruang publik mungkin Nathaniel sudah memukul lengan Sang Raha untuk menjauh.
Nathaniel benar-benar tidak ingin melihat wajah percaya diri Felix yang begitu menyebalkan.
"Akui aja kalo calon suami lo ini ganteng banget."
"Cuih!"
Tawa Felix mengudara.
Ia menyukai sesi adu mulut dengan menggoda Nathaniel, karena itu begitu menyenangkan. Melihat Nathaniel yang mencibir, mengembungkan pipi sebal, atau mendumel tak henti-henti. Semuanya terlihat menggemaskan bagi Felix.
Kereta kuda mereka berhenti tepat di belakang kereta kuda Oliver dan Ethan. Felix turun terlebih dahulu kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Nathaniel turun dari kereta. Lagi-lagi ini kebiasaan wajar yang para bangsawan pria lakukan—tapi mendapat perlakuan seperti ini dari Felix membuat lagi-lagi jantung Nathaniel berdesir halus. Felix memang selalu berhasil membuatnya kacau (dan Nathaniel tidak menolak diperlakukan seperti itu).
Ketika Nathaniel turun, ia melihat Ethan tersenyum menggoda mereka sambil menepuk Oliver agar ikut menggoda Felix dan Nathaniel seperti dirinya. Sang Raja hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Felix yang sudah menarik Nathaniel mendekat tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Tentu saja Nathaniel protes tapi tertahan oleh sikap sopan santunnya mengingat mereka berada di ruang publik.
"Jangan lupa kesepakatan kita, Felix," teriak Ethan.
"Udah aku bilang jangan disebut astaga ...."
Ethan menutup mulutnya. Meminta maaf sambil tertawa yang itu semua terlihat disengaja. Nathaniel langsung mendengus karena menambah bukti bahwa benar ini semua adalah rencana Felix.
Tapi yang didengusi hanya terkekeh.
"Wah beruntung sekali ya, Yang Mulia Raja Felix."
Felix dan Nathaniel refleks menoleh karena mendengar suara seseorang berbicara pada mereka. Di sana, terlihat Pangeran Damian berjalan mendekat bersama Raja Julius di belakangnya. Kereta kuda mereka berada di belakang Felix dan Nathaniel tentu saja mereka bisa bertemu seperti ini. Damian melanjutkan, "anda beruntung sekali bisa satu kereta kuda dengan Pangeran Nathaniel. Tahu begitu, saya meminta duluan untuk satu kereta dengan Pangeran Nathaniel kepada Yang Mulia Raja Ethan."
Nathaniel terkejut tentu saja mendengar Damian berkata seperti itu. Dapat ia rasakan genggaman tangannya mengerat beberapa detik karena keterkejutan Felix mendengar itu. Julius di belakang Damian pun tersenyum. Terlihat, pria itu akan menimpali, "apa ada syarat khusus untuk bisa satu kereta kuda dengan Pangeran Nathaniel? Jika ada, akan saya usahakan untuk acara pawai selanjutnya."
"Oh ya ampun, sepertinya banyak sekali yang ingin satu kereta kuda dengan Pangeran Nathaniel," timpal Ethan dengan nada terkejutnya. "Tidak saya sangka Pangeran Nathaniel sepopuler itu."
"Saya dengar Pangeran Nathaniel pun diminati banyak bangsawan untuk berdansa kemarin." Oliver tiba-tiba menimpali. Menambah was-was Nathaniel menunggu reaksi Felix dengan segala kalimat kompor ini. "Tapi sayang sekali anda tidak ikut saat sesi dansa berlangsung, Pangeran."
"Itu salah saya kemarin." Julius menjawab sehingga semua pasang mata tertuju padanya. Pria itu tidak terlihat mau menutupi pertemuan mereka semalam, sepertinya. "Karena saya meminta Pangeran Nathaniel menemani saya menikmati pesta semalam,"
Kalimat Julius sungguh ambigu. Orang yang mendengarnya pasti akan salah paham dengan mereka dan tentu seharusnya Nathaniel meluruskan agar tidak terjadi salah paham. Tapi sekarang, Nathaniel justru tidak meluruskan apa-apa seakan-akan itu semua benar karena—sungguh! Nathaniel ingin melihat reaksi Felix.
Apakah pria itu akan cemburu?
"Ah begitu ya?"
Nathaniel melirik dengan ekor matanya merasakan genggaman tangannya sangat erat tetapi ekspresi Felix tidak memperlihatkan apa-apa. Hanya datar dengan senyum template yang selalu Nathaniel lihat ketika pria itu berbicara dengan lawan bicara bangsawan lainnya.
"Tidak ada syarat khusus, Yang Mulia Raja."
Genggaman tangan mereka terlepas.
Tapi diganti dengan lengan Felix mengalung di pinggang Nathaniel. Membawa Nathaniel berdiri lebih dekat padanya.
Deg!
"Anda hanya perlu menjadi calon suami Pangeran Nathaniel."
Tak terduga bahwa Felix akan menjawab sesingkat itu tetapi berhasil membuat Damian dan Julius skakmath—sedangkan Ethan di sisi yang lain tertawa geli (diam-diam tentu saja) padahal dia juga ikut mengompori Felix. Orang yang tak mengenal Felix mungkin tidak akan beranggapan bahwa pria itu tengah cemburu dilihat dari reaksinya. Tapi bagi Ethan yang sudah mengenal Felix cukup lama; pria itu terlihat sangat cemburu mendapati Calon Suaminya disukai oleh banyak orang.
Terlebih dua orang ini memiliki status yang tidak bisa dibilang remeh.
Ethan menghampiri mereka yang sudah terlihat bersitegang. Meski senyum masih terbingkai di wajah masing-masing tapi atmosfer di sekeliling mereka tidak demikian. Sebagai saumi dari pemilik acara Ethan harus mengembalikan suasana. "Karena ini acara perdana yang dihadiri Pangeran Nathaniel, para bangsawan jadi antusias untuk berinteraksi dengan Pangeran Nathaniel, ya? Saya akui itu karena saya pun merasa demikian. Tapi mau bagaimana pun Pangeran Nathaniel secara resmi sudah menjadi pasangan Raja Felix—meskipun mereka belum mengadakan pesta peresmian. Tapi hal itu tidak bisa dipungkiri, bukan?"
"Anda benar sekali, Yang Mulia Raja." Damian membenarkan. "Tapi, para bangsawan yang tertarik dengan Pangeran Nathaniel dan tidak menarik batas diri karena acara peresmian yang belum dilaksanakan, bukan?"
"Apa gunanya acara peresmian jika tidak didasarkan oleh perasaan, Pangeran Damian?"
Wah wah ....
Sepertinya ini kali pertama Ethan gagal mencairkan suasana.
[]
Komentar
Posting Komentar