TERNYATA benar apa kata Felix. Argata masih menjaga ciri khas Kerajaan Kuno abad lalu dilihat dari arsitektur bandara yang masih terkesan klasik dengan pilar-pilar besar serta ukiran artistik yang terkesan mewah dengan hanya sekali pandang. Tidak hanya dikejutkan dengan desain bangunan bandara, Nathaniel juga dikejutkan dengan kereta kuda yang sudah menunggu. Siap membawa rombongannya menuju Istana Argata yang katanya akan memakan waktu enam jam perjalanan dengan kereta itu.
Ini adalah pertama kalinya Nathaniel menaiki kereta kuda. Kerajaannya sudah memasuki modernisasi sejak ia lahir sehingga kereta kuda seperti ini sudah ditinggalkan oleh kerajaannya dan beralih pada kendaraan bertenaga olahan minyak bumi. Tentu karena tak perlu memakan banyak waktu sehingga membantu para bangsawan mengefisiensi waktu. Meski demikian, pembelajaran berkuda tetap diikuti oleh para bangsawan dan Nathaniel sangat menyukai itu.
Tapi tentu ada harga yang harus dibayar untuk itu semua. Nathaniel akui jika udara Argata begitu sangat sejuk lebih dari kerajaannya. Rasanya lebih segar dan bersih mungkin karena tidak terkena polusi mesin bermotor seperti di Dirgata. Itu kenapa letak bandara cukup jauh dengan pemukiman kerajaan (Mungkin agar tidak menggangu aktifitas rakyat kerajaan dan menjaga polusi udara dan suara). Dari balik jendela kereta kudanya Nathaniel dapat meliat pepohonan tumbuh di sepanjang jalan mereka dengan langit membentang begitu cerahnya dengan burung-burung berterbangan ke sana ke mari. Matahari tidak bersinar terlalu terik hari ini mungkin karena bulan ini Argata masih berada di musim dingin. Meski tidak bersalju seperti dua sampai tiba bulan lalu tapi cuacanya masih cukup dingin.
Nathaniel jadi membayangkan Felix yang mungkin akan mengeluh kedinginan karena suhu hari ini lebih dingin beberapa celcius ketimbang malam itu di Dirgata. Membayangkan pria itu terbungkus beberapa pakaian tebal membuat Nathaniel tertawa geli. Hal itu tentu ternotis oleh Naomi yang duduk di hadapan sang pangeran. "Liat siapa yang senyum senyum sendiri dari tadi, pasti engga sabar mau ketemu calon suaminya."
"Lo kali yang nggak sabar mau ketemu Duke Charlie." Nathaniel mendelik membalikkan ucapan Naomi.
Gadis itu malah membenarkan dengan centilnya sambil mengibaskan rambut hitam panjangnya ke belakang bahu. "Beberapa minggu nggak ketemu Duke Charlie bikin gue meriang karena rindu."
"Dilihat-lihat omongan lo udah mulai formal puitis ya, Nao. Kebanyakan begaul sama Bangsawan Arabelia sih."
"Nanti juga lo bakal ngerasain gimana interaksi sama bangsawan di luar kerajaan, Prince. Lo baca informasi gue engga sih?" Naomi tiba-tiba mengintrogasi Nathaniel dengan mata memicing menyelidik. Belum sempat Nathaniel jawab gadis itu sudah menyela, "di sana loh tertulis gimana gaya bicara setiap kerajaan. Arabelia mungkin sedikit mirip kita, tapi gaya bicara antar bangsawan kadang bisa seformal Argata mungkin karena hubungan keduanya yang baik. Argata tentu sangat formal-klasik. Mirip novel novel kuno romantis-klasik yang suka Jeslyn baca pas kita sekolah dulu. Ligata engga seformal itu dan Gibelia sangat formal kaku mungkin karena Raja Gibelia sudah tua, kita lihat saja gimana Pangeran Mahkotanya."
"Selama tiga bulan ini lo udah sering ketemu banyak orang, ya?"
"Ini kali kedua gue ke Argata. Beberapa kali sering interaksi sama Bangsawannnya terus Duke Charlie juga seformal itu, njir. Gue jadi kebawa tanpa sadar." Naomi menjeda ucapannya untuk menyunggingkan senyumnya sampai membuat kedua matanya menyipit. Ia berkata dengan bangga setelahnya, "tapi Duke Charlie bener-bener bantu gue banget buat mersiapin diri jadi asisten lo, prince. Awalnya pesimis tapi berkat beliau gue jadi optimis bisa. Jadi lo tenang aja, gue bakal jadi asisten yang bisa lo banggain nanti."
Kalimat itu bukan hanya kebanggaan semata. Mengenal gadis itu sejak masih belia Nathaniel tahu jika Naomi memiliki beberapa tekad dan keahlian yang mungkin tidak Naomi sadari. Sifatnya yang mothering (mungkin karena Naomi adalah putri tertua Keluarga Chandwick sehingga sifat itu sudah tumbuh sejak kecil) membuat Naomi akan dengan mudah berada di posisi ini. Ditambah gadis itu yang mudah bersosialisasi dan peka sekitar. Nathaniel mungkin akan banyak merepotkan gadis itu.
Waktu enam jam berlalu begitu saja dengan Nathaniel isi dengan kegiatan tidur, begitupun dengam Naomi. Membuat mereka langsung mengaduh pegal begitu acara tidurnya terganggu dengan suara-suara bising dari luar. Nathaniel jadi heran bagaimana cara para Bangsawan Argata bisa tahan dengan sensasi pegal selama di perjalanan seperti ini. Mungkin mereka punya obat peredanya? Nathaniel akan tanyakan itu nanti.
Suara bising itu ternyata dari aktivitas rakyat—yang baru Nathaniel sadari ternyata mereka sudah sampai di pusat wilayah Kerajaan Argata. Nathaniel mengintip dari balik jendela. Melihat semua rakyat di sana menyisikan diri untuk memberi penghormatan padanya karena tahu kereta itu membawa rombongan Dirgata menuju istana. Melihat bagaimana cara mereka memberi hormat (membungkukkan badan dengan tangan kanan menyentuh dada kiri mereka—jika wanita akan menarik sedikit gaunnya ke samping dengan tangan kirinya) membuat Nathaniel takjub. Seperti novel novel Kerajaan klasik yang sering Jeslyn ceritakan dulu dan kini Nathaniel melihatnya secara langsung.
"Cara mereka memberi hormat sangat klasik dan anggun," komentar Nathaniel. "Di Dirgata hanya cukup membungkukkan badan. Berlutut pun kalau situasinya formal."
"Diantara semua hormat gue paling suka sama cara hormat Argata, mungkin karena para wanita masih pake gaun ya? Kalau di Dirgata kan udah mulai bebas berpakaian," ujar Naomi juga ikut mengintip keluar kereta bersama Nathaniel. "Gue sih kalau pake gaun tiap hari bakal nyusahin."
"Payah masa kalah sama Yang Mulia Ratu?"
"Hei! Yang Mulia Ratu udah keharusan ya pakai gaun," protesnya. "Kalau gue jadi istrinya Raja Felix udah pasti tiap hari dipakein gaun."
"Kenapa jadi berandai-andai ke calon suami gue?" Nathaniel balik memprotes. "Padahal lo bisa pilih Yang Mulia Raja buat berandai-andai."
"Pelit banget, njir. Sampe ga boleh gue pinjem calon suami lo buat bahan andaikan." Setelah mengatakan itu ekspresi Naomi mulai menunjukkan suatu niat yang akan menggoda Nathaniel yang terkesan tidak ingin membagi Felix pada siapapun. Nathaniel baru mau menyudahi dan Naomi baru akan bersiap melontarkan kalimat-kalimat "Hayo loh ... udah naksir ya lo sama Raja Felix?" tapi terhenti karena kereta kuda mereka berhenti disusul dengan sebuah teriakan menyambut mereka.
"Pangeran Dirgata Nathaniel Bjorn Eadwaerd telah tiba di istana!"
Satu teriakan itu berhasil mengembalikan Nathaniel dan Naomi pada sikap Bangsawannya. Nathaniel membenarkan pakaiannya sedikit begitu juga dengan Naomi sebelum akhirnya pintu kereta dibuka oleh Sang Kusir. Nathaniel tentu keluar lebih dulu karena sudah menjadi tata krama kerajaannya untuk mendahulukan seseorang yang memiliki pangkat tertinggi. Begitu tubuhnya melangkah keluar, saat itu juga pandangannya langsung bertemu dengan pria yang sempat singgal lamunannya beberapa jam lalu; Felix Godwin.
Felix Godwin berdiri beberapa meter di hadapannya. Beberapa pelayan dan pengawal dari Aragata berada di belakangnya memberi hormat dengan gaya yang sama seperti yang sudah Nathaniel lihat barusan. Nathaniel dapat melihat pria itu memakai pakaian musim dingin berlapis berbahan wol. Syal berwana bumi melilit leher jenjangnya sehingga pria itu cukup tenggelam di dalam balutan pakaiannya. Di kepalanya terpasang earmuff untuk menghangatkan telinganya. Melihat itu semua, bukannya ini sungguh berlebihan? Nathaniel menaham tawanya.
"Selamat datang, Prince Nathaniel." Charlie menyambut di dekat pintu kereta. Membungkukkan badannya empatpuluh lima derajat sebelum mengulurkan tangannya untuk membantu Naomi turun dari kereta, "Selamat datang, Lady." Setelah Nathaniel berhasil turun.
Felix menghampiri Nathaniel yang sudah membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Pria itu tersenyum hangat meski wajahnya sudah pucat dengan hidup sedikit memerah. "Apa perjalanan anda menyenangkan, Prince?" tanyanya dengan delikan mata yang memberi tahu bahwa ia sudah bisa berbasa-basi. Tentu saja membuat Nathaniel berdecih pelan. "Maaf Yang Mulia Raja tidak bisa menyambut kedatangan anda karena sebelum anda tiba, rombongan dari Gibelia juga tiba. Jadi Raja Ethan sedang memandu rombongan Gibelia, sehingga Yang Mulia meminta saya yang menyambut anda. Apa anda keberatan?"
"Tidak apa, saya tidak keberatan dengan itu."
"Mari saya pandu menuju Ruang Tahta." Felix mempersilahkan Nathaniel untuk mengikutinya sehingga mereka berjalan bersisian menuju Ruang Tahta untuk menghadap Raja atas kedatangan mereka.
Nathaniel melirik ke belakang dan melihat Naomi serta Charlie yang berjalan cukup berjarak dengan mereka. Sang pangeran berbisik, " Kenapa mereka jalan jauh banget dari kita?"
"Sengaja," jawab Felix mengikuti Nathaniel, berbisik. "Biar mereka nggak nguping obrolan kita."
Mendapatkan jawaban seperti itu tentu membuat Nathaniel mendengus dan refleks menyikut sisi pinggang Sang Raja membuatnya mengeluh tertahan. "Prince Nathaniel ada hukumannya loh buat siapapun yang menyakiti Raja Arabelia."
"Oh ya?" Nada Nathaniel terdengar menantang. "Meskipun itu suami lo sendiri?"
"Meskipun itu suami gue sendiri."
"Meskipun ...." Tubuhnya sedikit mendekat pada Felix untuk berbisik lebih pelan tepat di telinga. "I hurt you by biting your shoulder because you were too excited on our first night?"
"Fuck."
Umpatan terdengar setelahnya dari Sang Raja sedangkan Sang Pangeran tertawa menang. Tentu ternotis oleh Naomi dan Charlie di belakang mereka. Felix masih dengan wajah terkejutnya—karena ia tidak menyangka akan mendengar dirty joke pertama mereka dan itu dari Nathaniel. Ini benar-benar gawat. 'Tak terduga kalau Nathaniel bisa memulai percakapan menjerumus kotor begitu.
"Yang Mulia Raja," panggil Nathaniel yang ternyata berada di hadapannya, berjalan mundur. "Bukannya cuacanya dingin? Oh apa yang mulia sendiri merasa sedikit panas?" ujarnya mencondongkan tubuhnya. "Mungkin karena kedinginan atau kepanasan sampai membuat wajah anda memerah."
Sialan.
"Saya cukup kesulitan karena cuaca yang dingin, tapi berkat anda saya sedikit hangat sekarang." Langkahnya terhenti. Wajah yang tak kalah menggodanya itu terlihat menantang balik Sang Pangeran. "Mungkin anda bisa membantu menghangatkan ranjang saya malam ini, Prince?"
Blush!
Semburat kemerahan langsung terbentuk di wajah Nathaniel begitu Felix membalas untuk menggodanya. Sang pangeran langsung berbalik untuk berjalan lebih cepat setelah mengumpat 'tai lo' dengan pada Sang Raja. Felix tertawa menang, kakinya melangkah sedikit lebih cepat untuk mengejar Nathaniel yang sudah menggerutu dari tadi. Perbincangan—lebih tepatnya goda menggoda itu langsung terhenti begitu mereka tiba di Ruang Tahta. Tempat dimana Raja dan Ratu biasanya menyapa tamu istana.
Saat pintu dibuka, Nathaniel menyadari bahwa arsitektur istana tidak kalah klasik-kuno namun tidak menghilangkan kesan mewah dan megahnya seperti di Bandara (ini karena keberadaan Felix yang membuat fokus Nathaniel teralihkan. Pria itu benar-benar bisa membuat Nathaniel hilang kendali). Pilar-pilar megah dari marmer berwana emas menyangga langit-langit yang berkilau dihiasi oleh lukisan-lukisan kuno yang mungkin ada makna sejarahnya. Lantai marmer putih yang dipijaki mereka pun tampak memantulkan kilauan cahaya dari lampu-lampu gantung di berbagai sudut ruangan. Di hadapan mereka; tepatnya di atas singgasana yang berada di tiga sampai lima anak tangga . Nathaniel dapat melihat seorang pria berkulit pucat duduk dengan mahkota di atas kepala. Melihat bagaimana para pengawal di sana menghormati sosok itu, tanpa mahkota itu, Nathaniel dapat mengetahui bahwa pria itu adalah Raja dari kerajaan Argata.
Oliver Teodor.
"Salam, Yang Mulia." Nathaniel langsung berlutut di hadapan Sang Raja. Salah satu kakinya berdiri menekuk dan kaki lainnya menyentuh lantai. Tangan kanannya terlipat di atas siku kaki yang menekuk itu dengan tangan lainnya berada di lantai, menyangga tubuhnya. Pose penghormatan yang dilakukan rakyat Dirgata untuk menghormati Raja dengan Felix berdiri satu langkah di belakangnya. "Saya Pangeran Nathaniel, perwakilan dari Dirgata. Saya sampai maaf Yang Mulia Ratu karena tidak bisa hadir di acara anda. Semoga anda panjang umur dan diberkati oleh dewi musim semi untuk memimpin Argata lebih lama lagi."
"Saya terima permintaan maaf Yang Mulia Ratu. Sungguh disayangkan beliau tidak bisa hadir hari ini," Suara Sang Raja terdengar cukup berat. Sepertinya umur Oliver tidak jauh beda dengan kakaknya. "Terima kasih atas doa yang engkau panjatkan, Pangeran. Sungguh, beruntung Kerajaan yang hampir dilanda musim dingin abadi ini diberkati oleh Dewi Musim Semi anda." Oliver meminta Nathaniel untuk kembali berdiri kemudian bertanya, "apa perjalanan anda menyenangkan? Maaf jika anda sedikit kesulitan dengan kereta kudanya."
Nathaniel berusaha menyusun kalimat yang sekiranya sopan untuk merespons Oliver. "Perjalanan saya sangat menyenangkan, Yang Mulia. Ini pertama kalinya saya mengunjungi Argata. Saya tidak menyangka bahwa Argata akan seindah ini—"
"Apa benar Argata seindah itu?"
Mereka semua refleks menoleh ke belakang saat sebuah suara menyahuti jawaban Nathaniel. Dari arah pintu, mereka melihat seorang pria berambut pirang sedikit panjang yang diikat setengah rambut kebelakang. Wajahnya tampak tak asing bagi Nathaniel seperti ia pernah melihatnya di suatu tempat. Pria itu menghampiri mereka dengan senyum ramah dan hangat—jika dipikirkan lagi, Oliver tidak tersenyum sehangat ini mungkinkah iyu efek dari kulitnya yang pucat sehingga tampak sedikit lebih dingin? Tapi siapa pria ini?
"Dia Raja Ethan, Prince. Suami dari Raja Oliver," bisik Felix menyadari jika Nathaniel tidak mengenali pria itu.
Nathaniel tentu saja terkejut. Sungguh tidak sopan sekali hanya bengong menatap pria itu yang berjalan menghampirinya. Nathaniel baru akan berlutut tetapi langsung dicegah oleh Ethan dengan memegang kedua bahunya.
Deg!
"Lihatlah, Ethan. Hujan turun dengan indahnya saat Piona menyanyikan lagunya."
Apa?
Apa itu tadi?
"Tidak perlu, Pangeran. Hormatmu sudah kami terima dengan senang hati." Ethan tersenyum hangat tak menghiraukan wajah Sang Pangeran yang terlihat kebingungan dan terkejut. Melanjutkan kembali langkahnya menuju singgasana untuk duduk di samping Oliver. "Maaf menyapa anda dengan telat, Pangeran. Saya harus memandu Pangeran Damian yang tiba lebih dulu dari anda."
"Terima kasih sudah memuji Argata, tapi saya yakin kerajaan anda lebih indah Argata. Saya sangat menikmati waktu di Dirgata ketika musim semi. Bunga-bunga bermekaran sangat indah, cuacanya cukup hangat, dan nyaman. Ah anda saat itu sedang Pendidikan Militer sehingga saya tidak bertemu dengan anda."
"Maaf membuat anda terkejut, Pangeran. Ethan memang sangat banyak bicara," ujar Oliver di akhir bicara Ethan yang tidak habis-habis. Tangan Oliver meraih tangan Ethan untuk ia genggam. Itu tidak luput dari pandangan Nathaniel. "Semoga anda menikmati acara beberapa hari ke depan. Jangan sungkan untuk meminta bantuan pada Raja Felix jika anda kesulitan beradaptasi di sini,"
"Raja Felix dan saya dengan senang hati akan membantu anda, Pangeran."
"Terima kasih, Yang Mulia." Sebelum pergi meninggalkan ruang tahta. Nathaniel membungkukkan badannya. "Semoga keagungan memberkati anda, Yang Mulia." Kemudian berbalik keluar ruangan bersama Felix di sampingnya.
Dari atas singgasana Ethan menatap punggung nathaniel dan Felix yang berjalan menjauh sampai akhirnya hilang dari pandanganya. Genggaman tangan mereka mengerat saat Oliver membisikkan sesuatu.
"Aku selalu mendukung keputusanmu, Sayang. Tapi jika itu mengancam hubungan Argata dan Arabelia yang sudah mendiang ayahku bangun. Aku tidak bisa berada dipihakmu lagi."
"Apa yang akan aku lakukan pun itu bukan untuk kebaikanku. Yang Mulia."
Ethan membawa genggaman tangan mereka menuju sisi pipinya. "Ini untuk kebaikan mereka dan negeriku."
[]
Komentar
Posting Komentar