"Kalau Pangeran Damian bisa kasih rasa aman ke lo, gimana?"
Perkataan Felix malam lalu masih terpikirkan oleh Nathaniel sampai sekarang. Pasalnya ia tak bisa menjawab apa-apa karena merasa gundah dengan perasaannya sendiri. Nathaniel ingin meminta Felix untuk percaya padanya; bahwa ia tidak akan pernah berpaling darinya—tapi, atas dasar apa sehingga Nathaniel bisa seyakin itu mengatakannya pada Felix?
Mungkin rasa khawatir Felix mirip seperti apa yang pernah Nathaniel khawatirkan. Ujungnya ini semua tertuju pada perasaan satu sama lain yang sampai sekarang tak bisa Nathaniel mengerti.
Entah memang tidak ia mengerti atau Nathaniel sendiri yang masih menyangkalnya terus menerus.
"Prince Nathaniel?"
"Eh?"
Nathaniel mengerjab sebentar—menyadari bahwa ia sekarang berada di tengah aula perayaan ulang tahun Raja Oliver yang sudah berlasung selama setengah jam ini—sebelum menatap ke arah Charlotte yang sedari tadi memanggilnya. Sang putri terlihat sedikit khawatir karena Nathaniel tak fokus berbincang dengan mereka. "Anda baik-baik saja, Prince? Wajah anda sedikit pucat."
Nathaniel berdahem, memberikan gelas wine kosong pada pelayan yang lewat sambil menatap sekitar aula yang sudah ramai sekali oleh para bangsawan. Hanya karena hal semalam, membuat Nathaniel mengikuti acara dengan pikiran melayang kemana-mana. Dia tidak fokus sama sekali. "Ah ya, saya baik-baik saja, lady."
Senyum manisnya terpasang kikuk berharap mereka tidak bertanya-tanya lebih lanjut atau mencurigai gelagatnya yang aneh. Tapi sepertinya usaha Nathaniel sia-sia karena seorang bangsawan pria yang ikut berkumpul bersama mereka bertanya, "saya penasaran, kenapa anda tidak bergabung dengan Raja Felix, pangeran?" Seperti dugaan, ketidakhadiran Felix bersamanya akan membuat mereka penasaran, "dari awal memasuki aula acara pun, anda datang dengan Lady Naomi."
"Itu tidak sopan sekali, Sir."
"Pangeran Nathaniel mungkin ingin berbaur dengan kita, makanya memilih bergabung bersama kita dahulu."
Bangsawan lainnya tampak menegur dan membela Nathaniel. Membuat yang bertanya sedikit tak enak hati. "Ah maaf, apa ucapan saya menyinggung anda, pangeran?"
Nathaniel tersenyum lebih halus lagi dan akhirnya membenarkan bahwa ia yang ingin bergabung bersama bangsawan lain karena alasan itu lebih aman. Beruntung para bangsawan itu pun menerima alasannya dan tidak bertanya-tanya lagi setelahnya. Itu cukup melegakan.
Di sela-sela percakapan mereka, mata Nathaniel sedikit menjelajah seisi aula yang ramai ini untuk mencari keberadaan Felix. Sejak ia memasuki aula acara bersama Naomi, ia sama sekali tidak melihat pria itu—maupun Charlie. Ketika acara dimulai; dari Raja Oliver dan Raja Ethan tiba, sambutan, dan acara pembuka. Felix tidak terlihat sama sekali di aula itu. Ia hanya melihat Adeliza dan Pangeran Liam di sana—mereka sempat bertegur sapa tetapi Nathaniel tidak bertanya dimana Felix berada padanya.
Disela pencaharian Felix mata Nathaniel malah bersitatap dengan Julius yang kini tengah berjalan menghampirinya dengan segelas wine di tangan kanannya yang besar.
Gawat.
"Selamat malam, Yang Mulia."
Melihat Julius menghampiri, mereka langsung memberi salam penghormatan—begitu juga dengan Nathaniel. Ia sudah berpikir keras mencari cara bagaimana ia keluar dari situasi ini, apalagi Naomi sedang tidak ada bersamanya. Julius menjawab salam itu dengan ramah dengan senyum yang entah kenapa begitu terasa janggal bagi Nathaniel. "Apa kedatangan saya menggangu percakapan kalian?"
"Tidak, Yang Mulia. Anda tidak mengganggu sama sekali."
"Suatu kehormatan bagi kami bisa menyapa anda secara pribadi."
"Anda Pangeran Nathaniel, benar? Kita sempat berpapasan di koridor kamar tamu kemarin. Apa anda ingat?"
Julius sama sekali tidak merespon ucapan para bangsawan dan malah berbicara pada Nathaniel. Terlihat sekali jika tujuan Julius menghampiri mereka karena ingin bicara dengannya. Tatapan mata pria itu benar-benar seperti ingin memangsanya. "Mana mungkin saya melupakan anda, Yang Mulia." Mau tidak mau Nathaniel harus meladeni Julius karena banyak bangsawan lain yang menyaksikan interaksi mereka. Sangat tidak sopan jika Nathaniel harus menghindari Julius secara terang-terangan.
"Kalau begitu, apa anda keberatan menikmati acara ini dengan saya secara pribadi?"
Apa?
"Ini kesempatan langka bisa bertemu dengan Pangeran Dirgata di acara seperti ini, bukan kah begitu?" Julius bertanya pada yang lain. Lebih tepatnya ia mencari validasi dari yang lain agar Nathaniel tidak menolak dirinya dan dia mendapat dukungan.
"Anda benar sekali, Yang Mulia."
"Bertemu Pangeran Nathaniel adalah kesempatan yang langka, tentu anda pun tidak mau melewatkan ini, bukan?"
"Anda pun sepertinya sedang tidak bersama Raja Felix, benar?" tanyanya lagi. "Jadi anda bisa menikmati acara ini bersama saya sebentar sampai Raja Felix datang."
Nathaniel sekali lagi menatap sekelilingnya pelan mencari keberadaan Felix atau Naomi yang bisa membantunya keluar dari situasi ini. Tapi keduanya benar-benar hilang dari pandangannya. Nathaniel pun tidak bisa menolak karena bangsawan yang ada di sana pun berpihak pada Julius dan meyakinkan Nathaniel untuk menerima ajakan itu. Melihat Julius yang gigih pun membuat Nathaniel tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya.
"Tentu, silahkan Yang Mulia."
Senyum Julius terbentuk melihat Nathaniel menyetujui ajakannya. Sang Raja kemudian mengikuti langkah Nathaniel setelah berpamitan dengan para bangsawan di sana. Nathaniel berniat membawa mereka ke tengah-tengah acara agar ada kesempatan mereka di sapa oleh bangsawan lain sehingga Nathaniel bisa curi-curi kesempatan untuk kabur saat Julius asik berbincang.
Tapi dasar raja yang licik, Julius malah membawa mereka menuju lantai dua dimana hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang. Tepat saat mereka sampai di pagar peyangga yang memperlihatkan suasana lantai utama aula, Julius membuka suaranya. "Sepertinya anda berusaha menghindari saya, Pangeran. Apa Raja Leofric yang memerintahkan anda untuk menjauhi saya?"
Benar-benar tidak disangka bahwa Julius akan bicara seperti itu. "Apa anda merasa seperti itu, Yang Mulia?"
"Ya, dan itu sangat jelas terlihat dari gestur dan tatapan mata anda," jawabnya disusul dengan tawa pelan yang membuat Nathaniel mengerutkan keningnya kebingungan. "Ternyata adik dan kakak bisa punya kesamaan seperti ini, ya?"
Lagi-lagi menyebut Leofric.
Sepertinya hipotesis Naomi dan Charlie soal Leofric yang memiliki masalah pribadi dengan Julius benar. Sudah tahu begini, Nathaniel memutuskan untuk meladeni saja percakapan mereka. "Sepertinya anda tahu banyak tentang kakak saya, Yang Mulia. Apa anda memiliki hubungan pribadi dengan Raja Leofric?"
Julius meneguk gelas wine sebelum menjawab, "Kami teman di akademi yang sama. Sebagai sesama Pangeran Mahkota, tentu kami menjalin hubungan yang baik selama di akademi. Meski akhirnya tidak berjalan dengan baik."
Ternyata benar apa yang Naomi asumsikan.
"Apa itu berhubungan dengan Wilayah Selatan yang kerajaan kita perebutkan?"
"Itu hanya salah satu alasannya," ada jeda di sana, "ah apa mungkin hanya alasan yang kakakmu buat agar anda mewaspadai saya?"
Apa itu?
Nathaniel tidak mengerti sama sekali apalagi ekspresi pria itu yang sangat sulit ditebak. Jika wilayah selatan adalah salah satu alasan, lalu apa alasan lainnya yang membuat Leofric mewaspadai Julius sampai sejauh ini?
"Saya tidak terlalu perduli tentang perebutan Wilayah Selatan itu. Itu hanya perebutan yang dilakukan oleh leluhur kita. Tidak ada hubungannya dengan zaman sekarang dan entah untuk apa wilayah kosong itu diperebutkan sampai bertahun-tahun seperti ini."
Itu benar. Nathaniel pun bertanya-tanya kenapa Wilayah Selatan diperebutkan sejak dulu oleh Dirgata dan Ligata. Wilayah selatan yang menjadi perbatasan dua kerajaan itu memang kosong. Ditanami oleh tanaman liar dan padang rumput yang luas. Memang ada potensi memiliki tanah yang subur tetapi tanah Dirgata pun tak kalah suburnya—begitupun dengan Ligata. Jika wilayah itu akan dialih fungsikan menjadi pertambangan, sampai sekarang Nathaniel tidak mendengar adanya proyek itu.
Lalu untuk apa?
"Itu yang saya pikirkan awalnya." Julius memandang Nathaniel yang masih diam mencerna perkataan Julius. "Sampai akhirnya saya tahu alasan kenapa Wilayah Selatan sampai diperebutkan seperti itu oleh kerajaan kita."
Nathaniel tidak menyanggah atau berupaya untuk menghentikan percakapan mereka. Membuat seringai Julius terbentuk karena dirinya berhasil membuat Nathaniel tertarik untuk mendengarkan ucapannya. Itu artinya, Nathaniel memang tertarik dengan hal ini tetapi tidak mengetahui informasi apapun.
Tandanya, Leofric tidak menceritakan apapun pada Nathaniel.
Suasana di lantai dasar aula terlihat sedikit lebih ramai melingkari lantai dansa saat Oliver dan Ethan bergandengan menuju pusat lantai dansa. Sesi dansa akan segera di mulai dengan Oliver dan Ethan yang memulai dansa terlebih dahulu. Ini adalah tradisi kerajaan yang tidak pernah terlewat setiap acara. Nathaniel juga sering mengikuti dansa setiap kerajaannya membuat acara tetapi ia tidak pernah melihat dua orang pria yang berdansa. Jadi saat ini, ia cukup penasaran.
Bagaimana Oliver dan Ethan akan berdansa sekarang.
"Prince Nathaniel apa anda sempat berpikir dari mana para penyihir berasal?"
Pertanyaan tak terduga terlontarkan saat suara musik mulai mengalun. Pandangan Nathaniel yang tertuju pada Oliver dan Ethan kini beralih pada Julius. Apa hubungan percakapan mereka sebelumnya dengan para penyihir?
Nathaniel tidak menjawab, memilih menunggu Julius untuk melanjutkan ucapannya. "Para penyihir yang tersebar di seluruh kerajaan benua barat, mereka bukan sekedar manusia yang diberi mukjizat oleh Tuhan secara tiba-tiba beberapa puluh tahun lalu. Keberadaan mereka memang sudah ada sejak ratusan tahun—hidup ditempat yang mereka sebut Arelian."
Deg!
Jantung Nathaniel terasa berdetak menyakitkan saat Julius menyebutkan nama Arelian. Rasanya sesak sampai Nathaniel menyentuh dada kirinya kebingungan sendiri karena tiba-tiba ia teringat kembali kenangan-kenangan bersama Ibundanya yang juga sering kali menyebut nama Arelian yang tidak pernah Nathaniel pahami apa itu. Melihat reaksi Nathaniel tidak membuat Julius khawatir. Pria itu menghampiri Nathaniel lebih dekat. Menyentuh punggung tangan Nathaniel yang memegang dada kirinya.
"Melihat reaksi anda sepertinya anda tidak mengetahui apa-apa soal Arelian, ya?"
Nathaniel memundurkan langkahnya. Memikirkan ulang dan menyambungkan semua ucapan yang pria itu katakan soal Penyihir, Arelian, dan Wilayah Selatan. Julius membiarkan sang pangeran untuk berpikir sendiri karena ia tahu bahwa Pangeran Nathaniel dari Dirgata bukanlah orang yang bodoh. Ia cukup pintar untuk bisa memahami apa maksud ucapannya.
Begitu Nathaniel sampai pada satu kesimpulan, matanya sedikit membulat nyalang menatap Julius yang menunggu. "Apa tujuan anda mengatakan hal ini pada saya, Yang Mulia?"
"Tujuan yang baik agar Pangeran Nathaniel pun mengetahui fakta yang tidak seharusnya disembunyikan oleh Yang Mulia Raja Leofric selama ini."
Apa?
Jadi selama ini kakak menyembunyikan sesuatu darinya?
"Bahwa para penyihir yang anda ketahui selama ini bukanlah manusia biasa. Mereka adalah bangsa Arelian yang selama ini pernah hidup di wilayah selatan yang kerajaan kita perebutkan. Termasuk mendiang ibu anda; Ratu Fiona."
Deg!
Sesak yang menjalar di dada kirinya mulai terasa menyakitkan sampai kaki-kakinya tidak bisa menopang tubuhnya untuk berdiri. Melihat tubuh Nathaniel yang mulai jatuh, Julius dengan sigap menahannya.
Namun saat Julius akan membantu Nathaniel berdiri. Sebuah tangan tiba-tiba menjauhkannya dari Nathaniel dan menarik sang pangeran menjauh. Julius dapat melihat Felix menatapnya waspada sambil memeluk tubuh Nathaniel. Memperingati Julius untuk menjauh dari tatapan matanya. "Apa yang anda lakukan pada Pangeran Nathaniel?"
"Kami hanya berbincang sebentar dan Pangeran Nathaniel tiba-tiba kesakitan seperti itu. Anda pun sepertinya melihat saya yang mencoba membantu Pangeran Nathaniel, Yang Mulia."
Felix tak menjawab tetapi tatapannya masih menatap curiga pada Julius. Saat Felix tiba di aula ini, Ethan (yang sudah selesai berdansa dengan Oliver) memberitahu Felix bahwa ia melihat Nathaniel sedang bersama Julius di lantai dua aula. Dari tempatnya berada, Felix pun dapat melihat mereka berdua di sana. Tanpa menunggu, Felix langsung menghampiri mereka dan melihat Julius yang sudah membantu Nathaniel untuk berdiri.
Memang tidak ada bukti bahwa Julius melakukan sesuatu pada Nathaniel tapi melihat Nathaniel saat ini yang kesakitan. Tidak mungkin ini terjadi secara tiba-tiba.
Felix akan bicara tetapi tertahan saat tangan Nathaniel mencekam lengan bagian atasnya berusaha untuk berdiri dengan kaki-kakinya. Tarikan napas Nathaniel terdengar pelan sebelum berbicara. "Saya tidak apa-apa, hanya sedikit sesak." Nathaniel melepaskan diri dari pelukan Felix. Menatap bergantian antara Felix dan Julius sebelum memberikan penghormatan pada keduanya. "Saya—izin mengundurkan diri, selamat malam Yang Mulia semoga musim semi selalu menyertai anda."
Setelah mengatakan itu Nathaniel berbalik menuruni tangga menuju lantai dasar sambil memegangi dada kirinya yang sakitnya mulai mereda. Menghiraukan teriakan Felix yang memanggil namanya berkali-kali.
"Sepertinya anda harus membawa Pangeran Nathaniel kembali ke Dirgata, Yang Mulia." Julius bersuara menghentikan Felix yang akan mengejar Nathaniel. "Selain Dirgata, semua tempat adalah racun untuk dirinya."
Felix menebak sesuatu. "Apa anda bicara tentang Arelian pada Pangeran Nathaniel?"
"Ah anda juga mengetahui soal Arelian, ya?" Julius tersenyum. "Sejauh mana yang anda ketahui tentang Arelian, Yang Mulia?"
"Yang Mulia Raja Julius." Nada bicara Felix merendah. Sebuah nada peringatan pada lawan bicaranya untuk tidak bertindak lebih jauh.
Julius tentu memahami maksudnya.
Felix berbalik meninggalkan Julius untuk mengejar Nathaniel yang sudah pergi. Saat itulah Julius merasakan keberadaan Ethan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Jadi ini tujuanmu datang kemari, Yang Mulia?"
Julius berbalik menatap Ethan. "Tujuan yang sama dengan anda, benar?"
[]
Komentar
Posting Komentar