KEESOKAN harinya Felix benar-benar menjemput Nathaniel di kamarnya untuk pergi ke dining room bersama, sesuai dengan pesan Naomi semalam. Tentu melihat pria itu (yang hari ini memakai pakaian empat lapis dengan syal melilit lehernya tak jauh beda dengan kemarin) sudah berdiri di depan pintu dengan senyum khasnya yang akhir-akhir ini melekat diingat Nathaniel. Senyum itu terasa menjengkelkan, ngomong-ngomong.
"Selamat pagi, Prince Nathaniel," sapanya menelisik pelan Nathaniel —yang sudah memasang wajah jengahnya—dari atas sampai bawah. "Anda menawan sekali hari ini."
"Tiap hari kali," responsnya sedikit judes kemudian menutup pintu kamarnya setelah mengatakan pada Naomi bahwa ia akan pergi ke dining room berdua saja dengan Felix. Nathaniel berjalan lebih dulu meninggalkan Felix yang sudah terkekeh melihat tingkah pria itu pagi-pagi.
Kakinya mengejar Nathaniel yang sudah berbelok ke tikungan. "Jujur aja, gue kaget banget. Ternyata lo orang yang sama yang semalem ngirim foto half naked, ya?" Felix berbisik setelah langkahnya sudah bersisian dengan sang pangeran. "Apa ini termasuk kepribadian ganda? Akan berubah setiap matahari terbit dan tenggelam?"
"Ngaco deh lo," dengusnya. Mendelik pada Felix di sampingnya yang sudah bersiap akan menjawab tetapi langsung dipotong oleh Nathaniel, "Kenapa sama yang semalem? Bikin lo kepanasan beneran? Gimana liat langsung njir bisa mimisan yang ada liat badan sexy gue."
"Oh wow ... how truly brave." Felix memutar badannya untuk melihat takut-takut ada orang lain mendengar pembicaraan mereka yang cukup berani di publik seperti ini. "Gue ga bisa bantah yang terakhir, sepakat." Felix menarik tangan Nathaniel untuk berjabat tangan secara tiba-tiba menandakan bahwa ia setuju dengan ucapan Nathaniel yang mengatakan bahwa ia sangat sexy. Tubuh atletis dengan tato di sepanjang lengan kanannya sampai kebahu. Dari foto itu dugaan Felix ternyata benar jika tato milik Sang Pangeran terukir diseluruh lengan kanannya dan begitu sangat cantik untuknya. "Tapi itu berlaku juga buat lo, prince."
"Lo duluan paling yang mimisan."
"Percaya diri banget?" kekehnya.
"Iya lah." Nathaniel menunjuk tangannya yang dipegang oleh Felix—tapi sekarang malah sedang dielus pelan punggung tangannya—dengan matanya. "Nih lo aja udah elus-elus tangan gue saking kegodanya."
Tawanya mengudara tapi elusan di tangan Nathaniel tidak terhenti dan malah mulai berani menyusuri setiap kulit lengannya di balik coat yang dikenakan. Nathaniel dapat merasakan dinginnya kulit Felix pada permukaan kulitnya. Menelusup ke bagian bawah lengannya memutari hingga menuju sikunya. "Gue bener-bener nggak sabar liat tato di badan cantik lo secara langsung."
Bergidik. Nathaniel merasakan sesuatu menyengat tubuhnya merasakan bagaimana tangan Felix bergerak di balik lengan coat-nya. Rasanya membuat darah disekujur tubuhnya berdesir hanya karena tangan besar nan dingin itu menyentuh setengah lengannya. Ini benar-benar gawat! Baru segini saja sudah membuatnya menelan ludah. Apalagi jika nanti Felix memiliki kesempatan lebih untuk menyentuh dirinya?
"Selamat pagi, Yang Mulia."
Mendengar suara tak asing menyapa. Nathaniel dan Felix refleks menjauhkan diri masing-masing dan kembali pada realita jika mereka berada di ruang publik. Melihat Oliver lah yang menyapa di belakang mereka, Nathaniel langsung berbalik dan membungkukkan badannya kaku. Menyapa Sang Raja dengan sedikit tergagap, "se—selamat pagi, Yang Mulia." Begitu dengan dua pengawal di belakang Oliver yang membungkukkan badan dengan tangan kanan di dada kirinya untuk menghormat pada Felix dan Nathaniel.
"Tidak biasanya anda datang sendiri, Yang Mulia. Dimana Raja Ethan?" tanya Felix yang entah untuk berbasa-basi agar suasana di antara mereka tidak canggung setelah Oliver—yang mungkin saja—memergoki mereka, atau memang bertanya.
"Suamiku sedang memandu Raja Julius ke kamarnya."
Tunggu, apa?
Raja Julius sudah tiba pagi ini?
"Jadi Raja Julius benar-benar melewati perjalanan malam ya? Tidak aku sangka beliau sekuat itu melewati malam panjang dan dingin di kereta kuda."
"Raja Julius tidak seperti anda yang tidak kuat dingin sampai memakai baju empat lima lapis, Yang Mulia," ujar Oliver membuat Nathaniel menahan tawanya karena kalimat itu seperti tengah meledek Felix tetapi nada bicara Oliver sangat datar dan dingin tanpa emosi. Sepertinya Oliver adalah tipe orang yang tak banyak bicara dan menunjukkan emosinya. Jika Nathaniel mudah tersinggung, mungkin semua kalimat yang Oliver ucapkan terkesan tak ramah dan menusuk. Padahal memang cara bicaranya saja yang seperti itu.
Felix hanya tertawa sumbang sambil menyolek tangan Nathaniel karena ketahuan sedang menahan tawa. "Maklum saja, kerajaanku hampir sepanjang tahun musim panas."
"Apa tidur anda nyenyak, Pangeran Nathaniel?" tanya Oliver pada Nathaniel. "Jika ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja."
"Tidur saya sangat nyaman, Yang Mulia. Suhunya memang lebih dingin dari Dirgata, tapi saya masih bisa beradaptasi."
"Syukurlah kalau begitu. Mari kita ke ruang makan bersama, sepertinya yang lain sudah menunggu di dalam."
Nathaniel membungkukkan badannya sekali lagi sebelum mempersilahkan Oliver jalan lebih dulu bersama Felix takut-takut jika kedua raja itu ingin berbincang sambil berjalan sehingga Nathaniel akan berjalan sedikit di belakang mereka. Tapi, lengan Felix sudah melingkar di pinggangnya menahan Nathaniel untuk berjalan di belakang mereka. Membawa sang pangeran untuk berjalan sejajar dengan mereka berdua dengan Felix yang berjalan di tengah mereka. Pria itu berbisik pelan di telinga Nathaniel. "Tidak lama lagi Prince Nathaniel akan memiliki status yang sama dengan kami. Jadi tidak perlu merasa sungkan untuk bejalan sejajar dengan kami."
Tahu persis apa maksud ucapan Felix membuat hati Nathaniel menghangat seketika. Sekarang, memang Nathaniel belum resmi menjadi suami Felix ataupun Raja dari Arabelia secara publik. Tetapi secara pribadi Felix sudah menganggapnya menjadi kekasihnya yang nanti bersama-sama memimpin kerajaan yang dicintainya.
Beberapa menit berlalu dengan langkah dan pembicaraan yang ringan mereka tiba di ruang makan istana. Begitu pintu megah terbuka, semua pasang mata tertuju pada mereka dan sigap bangun dari duduknya untuk melakukan salam penghormatan pada Sang Raja; Oliver dan Felix. Melihat semua orang menyapa dua raja di sampingnya membuat Nathaniel lagi-lagi memundurkan langkahnya dan tentu saja langsung ditahan oleh Felix dengan melingkarkan lengannya di pinggang Sang Pangeran.
"Terima kasih atas kehadiran Tuan dan Nyonya semua. Maaf jika saya sedikit terlambat."
"Tidak apa, Yang Mulia. Saya dengar anda sedang menyapa Raja Julius yang baru tiba pagi ini."
Nathaniel mengikuti seorang pelayan yang mempersilahkan Nathaniel untuk duduk di salah satu kursi di samping Naomi yang sudah datang lebih dulu (Tentu datang bersama Charlie—perlu diingat jika Naomi dan Charlie salah satu bangsawan terhormat di kerajaannya sehingga pastinya akan ikut makan bersama) pada meja makan panjang itu—yang mungkin bisa menampung hingga duapuluh orang. Tempatnya duduk sedikit lebih jauh dari Felix yang harus duduk dekat dengan Oliver di seberang ujung dari tempat Nathaniel duduk. Jujur saja Nathaniel sedikit canggung karena ini pertama kalinya ia makan bersama dengan para bangsawan kerajaan lain. Di samping lainnya duduk bangsawan perempuan yang Nathaniel ingat jika itu adalah bangsawan dari perwakilan kerajaan lain. Mereka saling menyapa dengan hangat. Sepertinya para bangsawan ini berumur tidak jauh dengan Nathaniel.
"Raja Julius benar-benar melewati perjalanan malam di kereta kuda dengan suhu sedingin itu?"
"Itu yang saya ucapkan barusan pada Raja Oliver."
"Raja Julius memang sangat nekat. Beruntung beliau baik-baik saja setelah melewati malam di hutan dengan kereta kuda."
"Dengan suhu sedingin itu? Astaga kita membicarakan itu terus dengan kalimat yang sama."
Tawa mengudara di sana dengan Nathaniel hanya diam mengamati perbincangan antar para bangsawan di meja itu.
"Dimana Raja Ethan, Yang Mulia?"
"Suamiku sedang mamandu Raja Julius ke kamarnya, mungkin sebentar lagi mereka akan ikut sarapan dengan kita. Tidak keberatan jika kita menunggu sedikit lagi?"
Naomi menoel tangan Nathaniel untuk berbisik, "Raja Julius kemungkinan ikut sarapan, inget ya, hindari interaksi."
"Inget kok."
"Tentu saja, Yang Mulia. Kehadiran Yang Mulia Raja Ethan adalah obat kehangatan untuk kita semua."
"Musim sedingin apapun akan terasa hangat jika bersama Raja Ethan."
"Anda berlebihan, Putri, Tapi saya sepakat dengan itu."
Dapat Nathaniel simpulkan sepertinya Raja Ethan terkenal sangat baik di antara para bangsawan dan mungkin memiliki status sosial yang baik di kalangan sosial para bangsawan. Memang Nathaniel akui jika Ethan begitu sangat hangat. Cara bicaranya ramah dan lemah lembut. Senyumnya hangat. Sikapnya penuh tata krama bangsawan namun tidak terkesan angkuh. Semua itu berbanding terbalik dengan Oliver—tapi mungkin itu yang membuat mereka saling melengkapi.
"Anda tidak datang bersama Mantan Ratu, Yang Mulia?"
"Sepertinya Kakak Ipar sedang menemani Pangeran Mahkota yang sedang sakit. Saya dengar Pangeran Liam terkena demam semalam."
"Oh tidak! Mungkin kah karena saya bawa Pangeran Liam bermain kemarin?"
"Pangeran Liam memang sudah tidak enak badan sebelum berangkat. Tapi anak itu tetap ingin berangkat karena ingin hadir di acara ulang tahun pamannya. Jadi kami membawanya bersama."
Ah jadi Mantan Ratu dan Pangeran Mahkota Arabelia juga datang ya? Tidak heran karena ini adalah acara sepupunya dan Mantan Ratu Arabelia berasal dari Argata. Nathaniel sangat ingin bertemu dengan mereka; khususnya pada Mantan Ratu karena setelah dia menjadi suami Felix. Semua tugas-tugas ratu yang semula dikerjakan oleh Adeliza akan menjadi tugasnya. Nathaniel harus membangun hubungan yang baik dengannya jadi Nathaniel memutuskan akan mampir ke kamar mereka untuk menyapa dan menengok Putra Mahkota.
"Saya sangat beruntung mendapat undangan dari anda, Yang Mulia. Karena itu saya bisa bertemu dengan Pangeran dari Dirgata."Seorang bangsawan perempuan yang duduk di hadapan Nathaniel menyebut namanya di sela perbincangan itu. "Bagi kami semua tentang anda terasa seperti fiksi di media. Melihat anda secara langsung seperti ini seperti saya mendapat lotre."
"Benar sekali, para gadis bangsawan di kerajaan kami mungkin akan cemburu jika tahu saya duduk bersebelahan dengan anda, Pangeran." Gadis bangsawan yang duduk di sampingnya menambahkan dengan tawa riangnya. "Boleh saya meminta foto bersama anda?"
"Sebelum itu anda harus minta izin pada Raja Felix, Nona Charlotte."
"Anda berani sekali meminta itu di depan calon suami Pangeran Nathaniel."
Nathaniel ikut tertawa kecil, ia menjawab, "Yang Mulia Raja pasti mengizinkan itu."
"Anda selalu percaya diri ya, Prince?" tanggap Felix di ujung sana.
"Secara tertulis saya masih Pengeran Dirgata, Yang Mulia. Tentu saya masih bebas melakukan apa yang saya inginkan."
Para bangsawan di sana berseru setuju, tertawa, bahkan menutup mulutnya saking terkejutnya melihat Nathaniel yang ternyata bisa seberani itu bergurau. Tidak ada yang berpikir itu tidak sopan karena mereka menganggap Nathaniel sedang menggoda calom suaminya dan mereka cukup terhibur melihat ekspresi Felix yang biasanya tampak berwibawa kini menganga tak percaya.
"Itu tandanya anda harus segera melamarnya, Yang Mulia." Oliver berbicara. "Tidak ada seorangpun yang mau diatur-atur jika tidak terikat secara resmi."
"Apalagi untuk Pangeran Nathaniel yang terbiasa dengan kebebasan." Nathaniel bersitatap dengan seorang bangsawan laki-laki yang menimpali ucapan Oliver. Nathaniel tidak mengenali dari kerajaan mana bangsawan itu berasal, jadi ia membiarkan bangsawan itu melanjutkan, "diatur oleh tetek bengek kerajaan dan Yang Mulia pasti akan membuat pening, benarkan, Pangeran?"
"Bukannya ucapan anda sedikit berlebihan, Pangeran Damian?" Naomi yang menjawab. Mungkin gadis itu tak suka dengan cara bicara bangsawan itu yang secara tidak langsung sedang menjelekkan Nathaniel.
Jadi bangsawan itu Pangeran Mahkota dari Gibelia?
Nathaniel tidak mengetahui bagaimana wajah sang pangeran karena di berkas informasi yang Naomi berikan tidak tertera fotonya. Hanya informasi singkat Sang Pangeran dan fakta bahwa Pangeran Damian terkenal cukup pemain wanita di Kerajaannya. Karakternya pun tidak cukup baik di kalangan sosial karena pria itu sama seperti Nathaniel; menyukai kebebasan.
Jadi Nathaniel memutuskan untuk menunggu apa yang akan Damian katakan selanjutnya yang untuk merespons ucapan Naomi. "Ucapan saya berlebihan itu tergantung bagaimana orang lain menafsirkannya. Apa anda menafsirkan ucapan saya dengan arti yang negatif, Putri?"
"Ma—"
"Saya memang menyukai kebebasan, Pangeran Damian."
Semua pasang mata tertuju pada Nathaniel yang memotong ucapan Naomi untuk membalas ucapan Damian. Tangannya menyentuh tangan Naomi dari bawah meja meminta gadis itu untuk menahan diri. Nathaniel tahu jika Naomi mulai terpancing emosi. "Tapi itu tidak menandakan bahwa saya melupakan tugas saya sebagai seorang Pangeran." Nada bicaranya datar tanpa emosi, tetapi semua orang tahu bahwa kalimat itu adalah penegasan pada Damian bahwa Nathaniel tidak semudah itu untuk dipermalukan.
Sepasang matanya menangkap Felix di ujung sana yang tersenyum bangga pada Nathaniel sambil menganggukkan kepalanya. Memberi tahu bahwa sikap yang Nathaniel tunjukkan sudah benar untuk merespons ucapan pemancing emosi seperti yang Damian lakukan. Sebenarnya Nathaniel pun pernah di posisi seperti ini. Dipancing oleh pembicara buruk tentangnya saat sedang pesta minum teh atau kumpul-kumpul kecil dengan generasi muda bangsawan di kerajaannya. Tapi mungkin karena situasinya berbeda, kadang kala Nathaniel terpancing disusul oleh Yeshaya yang tak kalah terpancingnya sehingga perseteruan muncul setelahnya. Jika hal itu terjadi biasanya Naomi yang akan memisahkan mereka.
Tapi situasi ini mengharuskan Nathaniel bersikap tenang. Ia tidak boleh menunjukkan gejolak emosinya yang sekarang tengah ia bendung saking kesalnya.
Setelah Nathaniel menjawab seperti itu tidak ada jawaban lagi dari Damian karena pintu ruang makan itu terbuka dan menampilkan Ethan serta seorang pria yang Nathaniel kenal sebagai Raja Ligata; Julius Van Alonzo.
Semua orang di meja makan itu langsung bangkit berdiri serta memberikan gestur penghormatan pada Sang Raja yang baru tiba. Jadi itu Raja Ligata yang selalu kakaknya pinta untuk jangan sampai berinteraksi? Impresi pertama Nathaniel saat melihat Julius pun entah kenapa terasa tidak nyaman. Instingnya mengatakan bahwa ia harus berhati-hati dengan pria itu.
"Ah apa kami membuat kalian semua menunggu?" tanya Ethan sedikit khawatir setelah semua orang di meja duduk kembali di kursinya. Ethan mempersilahkan Julius untuk duduk pada kursi kosong yang berada di samping Felix—dan Ethan duduk di samping Oliver.
"Tidak apa, Yang Mulia. Kami dengan senang hati menunggu kedatangan anda."
"Itu karena saya sehingga sarapan pagi ini tertunda, maaf jika membuat kalian semua menunggu lama."
Deg!
Mendengar suara Julius sedikit membuat jantung Nathaniel berdebar kencang beberapa detik. mungkin karena ini efek dari peringatan Leofric untuk meminimalisir interaksi dan waspada terhadap Julius sehingga tanpa sadar membuat Nataniel merasa harus waspada.
Setelah perbincangan singat Oliver memerintahkan beberapa pelayan untuk membawakan hidangan sarapan pagi dan menatanya di atas meja. Bau harum yang tercium serta beraneka ragam makanan tertata rapih di atas meja membuat mereka melupakan kecanggungan yang sempat tercipta beberapa menit lalu. Meski begitu Nathaniel tidak lepas untuk berhenti melirik Julis, Damian, dan Felix bergantian.
Ini baru hari kedua Nathaniel tiba di Argata. Tetapi ia sudah harus mewaspadai dua orang selama beberapa hari ke depan. Tapi untuk Damian, entah apa yang pria itu rencanakan sampai harus memancing emosinya seperti tadi.
[]
Komentar
Posting Komentar