Langsung ke konten utama

The King (remake) ; Part 108

 Sesuai dengan permintaan Ethan untuk menemuinya di perpustakaan istana setelah acara selesai. Nathaniel menunggu beberapa menit setelah acara selesai untuk memastikan tidak ada yang mengetahui kepergiannya (sesuai dengan permintaan Ethan juga yang meminta Nathaniel merahasiakan pertemuan mereka). Nathaniel sudah memastikan Naomi kembali ke kamarnya dan Felix sudah tidur diakhir chat mereka. Nathaniel juga memastikan bahwa tubuhnya baik-baik saja agar ia tidak membuat kegaduhan takut-takut jika ternyata ia masih merasakan sakit. Tapi itu mengingatkannya sekali lagi bahwa sentuhan yang Felix berikan padanya tadi membuatnya merasa lebih baik.

Jujur saja ini sangat aneh. Nathaniel yakin bahwa Felix tidak melakukan apa-apa pada tubuhnya karena sebelum pria itu meninggalkannya; Felix masih menunjukkan wajah khawatirnya; itu tandanya sentuhan yang Felix berikan padanya hanya sentuhan biasa. Tidak bertujuan untuk menyembuhkan.

Haruskah ia mengatakan ini pada Leofric?

Tapi ... masih banyak sekali kejanggalan yang membuat Nathaniel ragu untuk mempercayai kakaknya.

Tapi tindakannya sekarang; menyetujui untuk bertemu dengan Ethan; apakah menandakan bahwa ia percaya pada pria itu?

Entahlah ... Nathaniel hanya berpikir, sepertinya pria itu memang mengetahui sesuatu.

Perpustakaan istana yang Ethan maksud berada di ujung istana. Bangunan tersendiri yang cukup jauh dari pusat istana. Tempat yang sepi namun diawasi oleh beberapa pengawal di berbagai pintu masuk. Nathaniel dengar jika perpustakaan istana milik Argata adalah yang terlengkap karena memiliki buku-buku sejarah lampau yang asli maupun terjemahan. Tempat yang tidak bisa sembarangan orang masuki dan memerlukan izin langsung dari Raja jika ingin berkunjung.

Di pintu masuk, Nathaniel melihat Ethan berdiri dengan pakaian yang lebih santai dari sebelumnya. Rambut pirang panjangnya diikat ke bawah menyisakan beberapa helai poni yang tidak sampai terikat. Menyadari kedatangan Nathaniel, pria itu menyapa Nathaniel lebih dulu, "syukurlah anda sudah sampai tanpa tersesat, maaf jika saya menggaggu waktu istirahat anda, Pangeran."

Nathaniel membungkukkan badannya untuk melakukan penghormatan. "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Lagi pula ini keinginan saya juga untuk bicara dengan anda."

"Kalau begitu mari, Pangeran. Anda bisa mengikuti saya."

Ethan bicara pada pengawal di depan pintu masuk dengan bahasa yang tidak Nathaniel mengerti. Nathaniel mengikuti langkah Ethan memasuki gedung perpustakaan dan saat Nathaniel berada di dalam terdengar sebuah dentuman keras di belakang mereka disusul oleh pintu perpustakaan yang tertutup. Suara itu berasal dari aliran sihir yang pengawal tadi ciptakan. Mungkinkah sihir itu digunakan untuk mengunci pintu agar tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang? Entahlah tapi yang jelas ada penyihir di antara pengawal Argata.

"Yang dilakukannya hanya untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang masuk," ujar Ethan langsung begitu mengetahui kebingungan Nathaniel. "Apa anda terkejut ada penyihir di antara pengawal Argata?"

"Di Dirgata kami tidak menjadikan penyihir pengawal kami, Yang Mulia. Makanya saya ... agak sedikit kaget."

"Di Argata, para penyihir yang tersisa akan menjadi pengawal atau ksatria raja. Entah yang mana itu tergantung seberapa kuat sihir yang mereka punya. Ah tentu saja sihir penyihir Argata tidak sekuat milik kerajaan anda."

Nathaniel baru akan merespons tetapi tertahan karena takjub melihat interior perpustakaan yang begitu indah dan super klasik. Warna dinding yang didominasi warna coklat dengan rak-rak menjulang berisi buku-buku yang Nathaniel yakini lengkap dari jaman lampau sampai sekarang. Meja-meja panjang dan kursi-kursi berjejer rapih di tengah gedung. Benar-benar luas dan megah. Sepertinya Maira akan senang berada di sana mengingat jika kakak iparnya menyukai membaca. Perpustakaan istana milik kerajaannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ini meskipun sama megah dan luasnya. 

Ethan membawa Nathaniel menuju ke arah rak yang berada di pojok gedung. Nathaniel membaca satu persatu judul buku yang berada di sisi buku yang bisa ia simpulkan bahwa rak itu berisi buku-buku novel romansa. Ternyata perpustakaan ini memiliki buku-buku kesukaan Jeslyn juga ya?

"Apa anda bisa mundur sebentar, Pengeran?"

Nathaniel memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari tempat Ethan berdiri. Dari posisinya berada, ia dapat melihat Ethan mengambil sebuah buku diujung rak. Membuka buku itu dan membacakan suatu kalimat dengan bahasa asing yang tidak Nathaniel mengerti. Beberapa saat kemudian, rak itu bergerak, bergeser ke samping sedikit kemudian terbuka ke belakang. Mulutnya ternganga. Apakah itu sebuah mantra? Jika iya apakah itu tandanya—

"Mari Pangeran, kita bicara di dalam."

"Apa anda juga seorang penyihir, Yang Mulia?" Nathaniel tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak bertanya. Pertanyaan itu terlontar begitu ia sudah masuk ke dalam rak yang ternyata berisi sebuah ruangan yang luasnya mungkin tidak lebih dari seratus meter persegi. Nathaniel dapat melihat beberapa rak dengan buku-buku di dinding, meja panjang, kursi, sofa, dan barang-barang serta peti di pojok ruangan. Mungkinkah ini ruangan rahasia milik Ethan?

Ditanya seperti itu menciptakan senyum tipis di wajah Sang Raja. Ethan berbalik menatap Nathaniel yang terlihat kebingungan. "Untuk dikatakan sebagai penyihir, saya tidak memenuhi syarat itu karena saya tidak memiliki mana." Ia menghampiri salah satu rak dan mengeluarkan sebuah buku dari sana. "Tapi saya adalah salah satu dari mereka, bangsa Arelian."

Apa?

Nathaniel tekejut. Tentu saja siapa yang tidak terkejut mendengar fakta jika salah satu raja dari lima kerajaan besar adalah bangsa Arelian? Jika begitu mungkinkah kenangan yang muncul beberapa hari lalu ada hubungannya dengan Arelian?

Buku yang Ethan ambil ia berikan pada Nathaniel. Di sampul depannya terdapat tulisan 'Negeri Arelian Lukisan ver' yang diukir dengan tinta merah. "Saya membuat buku versi tulisannya juga. Tetapi sepertinya seseorang sedang meminjamnya." Nathaniel membuka buku itu. Di halaman depan terdapat sebuah foto berlatar pemandangan hitam putih. Halaman berikutnya tidak ada tulisan apapun. Hanya lukisan dari tanda hitam yang bisa Nathaniel simpulkan sebagai lukisan yang menggambarkan keadaan alam yang terbakar dengan gambar mayat prajurit. Gambar ini ... terlihat seperti kondisi peperangan.

"Itu negeri kami; Arelian. Negeri damai yang berisi kurang dari seratus jiwa penduduk. Tetapi kedamaian itu sirna saat para manusia menemukan kami." Ada jeda di sana sebelum Ethan melanjutkan, "para manusia yang mengetahui kekuatan kami mulai melakukan penjajahan. Keserakahan mereka yang menimbulkan konflik antar kerajaan dan wilayah kami hancur."

"Saat kejadian itu, beberapa penduduk berpencar melarikan diri. Namun sebagian dari kami yang tidak berhasil melarikan diri menjadi tawanan perang tiga kerajaan; Arabelia, Ligata, dan Dirgata. Ibumu, mendiang Ratu Fiona adalah tawanan perang Raja Leon Kakek buyutmu, Pangeran."

Leon Bjorn Eadwaerd.

Raja generasi pertama Dirgata, kakek dari mendiang ayahnya.

Tunggu! Bukannya itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lalu?

"Alasan mereka menjadi tawanan perang, apakah karena para kerajaan ingin kekuatan yang Arelian punya?" tanya Nathaniel.

Ethan mengangguk, ia mendudukkan diri di sofa setelah mengambil buku lainnya di dalam rak. "Awalnya sebelum peperangan itu terjadi. Raja Leon dan Raja Frederick dari Arabelia meminta pertolongan pada kami. Saat itu benua barat mengalami bencana. Kekeringan dimana-mana, semua hasil pertanian dan perkebunan gagal panen. Ketiga kerajaan itu meminta Nenek Kwan, pemimpin kami untuk membantu mereka. Dengan belas kasih mendiang ratu Fiona, kami akhirnya membantu mereka."

Halaman berikutnya menampilkan lukisan seorang wanita tua yang berjabat tangan dengan seorang pria yang terlihat mirip seperti lukisan kakek buyutnya di kerajaan Dirgata. Lusikan berikutnya terlihat seorang wanita tengah mengangkat kedua tangannya ke atas langit dan terlihat goresan-goresan hujan di sekitarnya. Lukisan wanita itu ... terlihat seperti mendiang ibundanya.

"Anda mungkin sudah mengetahui bahwa mendiang ratu Fiona memiliki kekuatan untuk menurunkan hujan. Tapi, kekuatannya lebih dari itu, Pangeran. Mendiang ratu Fiona memiliki kekuatan untuk mengendalikan alam. Jika para penyihir hanya memiliki satu mana alam. Mendiang ratu Fiona memiliki semuanya."

Lukisan pada halaman berikutnya menampilkan gambar seorang wanita yang dikelilingi oleh mana alam. Tertulis di sana; earth, water, wind, fire, thunder, ice, force, time, flower, shadow, light, and moon. Kedua belas mana alam itu dimiliki oleh Mendiang Ibundanya.

Benar-benar fakta yang tidak terduga.

Nathaniel hanya tahu jika Ibundanya hanya memiliki kekuatan untuk menurunkan hujan karena ia selalu melihat Ibundanya melakukan semacam ritual untuk menurunkan hujan. Ibundanya akan bernyanyi sambil mengangkat kedua tangannya ke langit setiap harinya saat kerajaannya mengalami musim kemarau. Hanya itu yang Nathaniel tahu tentang Ibundanya.

"Melihat kekuatan kami, membuat sifat serakah para manusia itu muncul. Mereka ingin menguasai kami. Perebutan bangsa Arelian tak terhindari sehingga peperangan itu terjadi. Dirgata menangkap Mendiang Ratu Fiona, Ligata menangkap Sir Terrano, dan Arabelia menangkap Mendiang Lady Agatha. Mereka ditangkap karena memiliki pangkat marga tertinggi yaitu Goldcorna. Mereka memiliki darah emas yang mengalir di tubuhnya."

"Tunggu! Sir Terrano yang anda maksud adalah Kepala Penyihir Istana Dirgata?"

"Benar, Pangeran. Sir Terrano sempat menjadi tawanan perang Ligata. Tapi itu hanya beberapa tahun sampai perang terjadi antara Dirgata dan Ligata. Kerajaan anda memenangkan peperangan itu dan meminta Sir Terrano sebagai hadiah. Karena hal ini, Ligata secara pribadi memiliki dendam kepada Dirgata." Ethan membuka buku yang ia pegang, menunjukkan beberapa halaman yang menampilkan lukisan peperangan. Seolah menunjukkan begitu banyak peperangan di masa lalu. "Para kerajaan menangkap satu dari masing-masing pemiliki darah emas karena berpikir mereka memiliki kedua belas mana itu dan bisa mereka gunakan untuk mengendalikan alam pada kerajaan mereka. Tetapi mereka tidak tahu jika ada energi yang perlu para Arelian berdarah emas serap untuk menggunakan kekuatan mereka." Ethan membuka halaman pada bukunya. "Energi itu adalah Bunga Peony yang kini menjadi lambang kerajaan Dirgata." Menampilkan sebuah lukisan bunga Peony.

Bunga Peony adalah lambang kerajaan Dirgata yang mengartikan sebuah cinta, kemakmuran, keberuntungan, dan kebahagiaan. Ibunda sering cerita mengapa ia memilih bunga Peony sebagai lambang kerajaan karena Ibunda ingin Dirgata menjadi kerajaan yang penuh akan kebahagiaan dan kemakmuran. Ia ingin cinta tumbuh di kerajaan yang sangat beliau cintai selama hidupnya. Tidak tahu bahwa Peony juga menjadi sumber energi kehidupan bagi Ibundanya.

Nathaniel membuka kembali halaman bukunya.

"Mendiang ratu Fiona yang menjadi tawanan perang Dirgata, memilih untuk bekerja sama dengan Mendiang Raja Leon. Ia bersedia membantu memakmurkan Kerajaan Dirgata dengan syarat sang raja memberikan kehidupan yang layak bagi bangsa Arelian yang ditawan oleh Dirgata. Raja Leon menyetujui hal itu. Ia memberikan kehidupan yang layak kepada para bangsa Arelian di Dirgata. Melihat Mendiang Raja Leon menepati janjinya, Mendiang Ratu Fiona kemudian menumbuhkan Bunga Peony di Dirgata dan bunga itu tumbuh sampai hari ini."

Halaman itu menampilkan lukisan Ibundanya dengan Raja Leon.

"Mendiang Ratu Fiona pun yang akhirnya meminta Raja Leonardo, kakek anda untuk berunding dengan kelima kerajaan besar benua barat untuk memberikan hak layak bagi para Arelian yang hidup berpencar di kelima kerajaan itu. Jika para raja bersedia, maka para Arelian akan memenuhi kewajiban mereka sebagai rakyat dari kerajaan tempat mereka tinggal. Raja kelima kerajaan saat itu akhirnya sepakat dan memberikan gelar penyihir bagi para Arelian pemilik mana dan menghapus sejarah Arelian. Sejak saat itu, sejarah tentang Arelian terhapus digantikan dengan sejarah penyihir kerajaan yang kita ketahui sekarang."

Halaman berikutnya menampilkan seorang pria yang tengah menghukum seorang wanita. Begitu pun dengan halaman selanjutnya. Terdapat lukisan seorang pria yang tengah menghukum pria lainnya. Gambar ini pasti Lady Agatha dan Sir Terrano. Kondisi mereka terlihat sangat mengkhawatirkan. "Berbeda dengan mereka. Keduanya memilih untuk menolak perintah raja dan akhirnya mendapatkan perlakuan yang tidak pantas. Energi Peony yang mereka butuhkan tidak ada sehingga rasa sakit itu muncul setiap harinya bagi para Arelian berdarah emas pemilik mana yang tidak bisa menyerap energi peony. Itu yang terjadi padamu, Pangeran."

Nathaniel mendongak terkejut. "Maksud anda, rasa sakit yang tadi saya rasakan karena beberapa hari ini saya tidak menyerap Energi Peony?" Ethan mengangguk. "Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Anda bilang itu hanya untuk Arelian berdarah emas pemilik mana. Jika begitu, maksud anda, saya adalah bangsa Arelian berdarah dan memiliki mana?"

"Benar, Pangeran. Mungkin anda masih tidak mempercayainya, tapi gejala itu adalah gejala yang khas bagi para Arelian berdarah emas pemilik mana rasakan, saat tidak menyerap energi peony. Untuk para Arelian pemilik mana biasa, ketika tidak menyerap energi peony, kekuatan mereka hanya akan semakin melemah dan lambat laun menghilang. Sedangkan gejala yang anda alami, itu persis seperti yang Lady Agatha alami selama berpuluh-puluh tahun ini."

"Itu tidak mungkin, sejak kecil saya tidak punya satupun kekuatan, Yang Mulia. Yang Mulia Raja Leofric juga tidak memiliki kekuatan dan beliau bahkan bisa pergi kemanapun."

"Itu tandanya Yang Mulia Raja Leofric bukanlah Arelian, Pangeran. Meski kalian lahir dari Arelian berdarah emas, itu tidak menjadikan kalian dialiri oleh darah yang sama. Tapi faktanya, anda memiliki gejala sakit seperti itu, yang menandakan bahwa anda adalah Arelian berdarah emas pemilik mana, Pangeran Nathaniel."

Buku yang Nathaniel pegang jatuh karena tangan kanannya gemetar hebat mengetahui fakta yang tak terduga selama ini. Tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanannya untuk menenangkan dirinya agar tidak panik. Kepalanya mendadak pening karena satu persatu pertanyaan di kepalanya terjawab. Kenapa Nathaniel tidak diperbolehkan untuk pergi keluar kerajaan, kenapa banyak orang-orang yang mengincar nyawanya, dan kenapa ... Felix ingin menikahinya. Semuanya sudah terjawab. Arabelia adalah kerajaan yang memiliki musim kemarau yang panjang. Tanahnya gersang dan tandus sulit untuk ditanami tanaman. Tujuan Mendiang Raja Frederick menawan Lady Agatha adalah untuk memakmurkan keranjangnya dan gagal. Meminta Nathaniel sebagai hadiah untuk menikah dengan Felix setelah mengetahui bahwa Nathaniel kemungkinan memiliki mana seperti Ibunda. Sudah jelas kearah mana tujuan pernikahan mereka ini.

Ethan meraih tangan gemetar Nathaniel dengan kedua tangannya. Terdengar pria itu kembali merapalkan sebuah kalimat dengan bahasa yang tidak Nathaniel mengerti yang setelahnya ia melihat sebuah cahaya membungkus tangan gemetarnya. Ia merasakan kehangatan energi menyelimuti tangannya dan perlahan tangannya berhenti gemetar.

"Mendiang Ratu Fiona lewat Marquess Falth yang memberikan kekuatan ini padaku. Ini adalah energi peony yang Mendiang Marquess Falth kumpulkan pada wadah ciptaannya kemudian dia tanamkan pada tubuhku. Aku bisa menggunakan energi ini dengan merapalkan mantra yang Mendiang Lady Agatha ajarkan dulu." Setelah tangan Nathaniel berhenti gemetar, cahaya itu menghilang. "Itu yang beliau lakukan juga pada Felix."

"Raja Felix—maksud anda beliau juga seorang Arelian? Itu berarti Mendiang Ratu Sophia juga Arelian?"

"Ah sepertinya Felix tidak bercerita tentang ini ya pada anda, Pangeran?" Ada keraguan di tengah ucapan Ethan. Setelah berpikir sejenak, Ethan akhirnya mengatakan fakta yang lagi-lagi membuat Nathaniel terkejut. "Raja Felix bukanlah anak dari Mendiang Ratu Sophia dan Raja Raymond. Beliau adalah anak dari selir Raja Raymond; Mendiang Lady Agatha. Karena satu hal, Ratu Sophia mengangkat Felix menjadi anak kandungnya dan fakta ini tidak diketahui oleh siapapun."

"Bagaimana anda bisa mengetahui ini semua, Yang Mulia?"

"Sir Terrano yang memintaku untuk membuat buku sejarah Arelian. Beliau yang menceritakan semua yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun selama saya bersembunyi di Argata."

Sudah jelas semuanya.

Nathaniel sudah mengetahui hampir semuanya yang disembunyikan selama ini oleh Kakak dan Kerajaannya. Semua yang Ethan ceritakan Nathaniel anggap benar kebenarannya karena ia tidak tahu lagi harus percaya pada siapa. Apa yang Julius katakan sebelumnya pun berhubungan dengan yang Ethan ceritakan. Tujuan pernikahannya dengan Felix pun semakin terlihat. Hanya tinggal, bagaimana orang-orang itu menggunakan dirinya untuk kembali pada Arelian seperti yang Marquess Falth katakan saat itu.

Biarkan ini hanya dia yang tahu. Ia tidak perlu memberi tahu Ethan karena Nathaniel tidak tahu apakah Ethan memiliki rencana yang sama seperti Mendiang Ibundanya atau tidak. Jika ternyata iya. Maka nyawa Nathaniel mungkin akan terancam.

Mengingat kembali cerita Ethan. Bukannya latar waktu itu terjadi berpuluh-puluh tahun lalu?

Lalu ....

Nathaniel mematai Ethan dari ujung rambut sampai kakinya. Pria itu terlihat sangat muda mengingat jika ia adalah teman militer Felix yang artinya umur mereka sama? Duapuluh tujuh tahun? Tapi kenapa Ethan berada pada latar waktu yang sama dengan kakek buyutnya? Begitupun dengan Mendiang Ibundanya. Mengapa Mendiang Ibundanya masih berada di latar waktu yang sama dengan Mendiang Ayahnya di saat dia sudah lahir sejak kakek buyutnya memerintah?

"Yang Mulia, berapa umur anda sebenarnya?"

Tawa Ethan mengudara mendengar Nathaniel akhirnya bertanya pertanyaan yang sangat Etham tunggu sejak tadi. "Astaga ... padahal saya berharap pertanyaan ini anda lontarkan di awal saya bercerita. Tidak disangka malah anda tanyakan diakhir cerita."

"Pangeran Nathaniel, kita para bangsa Arelian tidak pernah akan menua maupun mati oleh usia."


[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The King (remake) ; Part 84

  TERNYATA benar apa kata Felix. Argata masih menjaga ciri khas Kerajaan Kuno abad lalu dilihat dari arsitektur bandara yang masih terkesan klasik dengan pilar-pilar besar serta ukiran artistik yang terkesan mewah dengan hanya sekali pandang. Tidak hanya dikejutkan dengan desain bangunan bandara, Nathaniel juga dikejutkan dengan kereta kuda yang sudah menunggu. Siap membawa rombongannya menuju Istana Argata yang katanya akan memakan waktu enam jam perjalanan dengan kereta itu. Ini adalah pertama kalinya Nathaniel menaiki kereta kuda. Kerajaannya sudah memasuki modernisasi sejak ia lahir sehingga kereta kuda seperti ini sudah ditinggalkan oleh kerajaannya dan beralih pada kendaraan bertenaga olahan minyak bumi. Tentu karena tak perlu memakan banyak waktu sehingga membantu para bangsawan mengefisiensi waktu. Meski demikian, pembelajaran berkuda tetap diikuti oleh para bangsawan dan Nathaniel sangat menyukai itu. Tapi tentu ada harga yang harus dibayar untuk itu semua. Nathaniel akui ...

The King (remake) ; Part 89

  KEESOKAN harinya Felix benar-benar menjemput Nathaniel di kamarnya untuk pergi ke dining room bersama, sesuai dengan pesan Naomi semalam. Tentu melihat pria itu (yang hari ini memakai pakaian empat lapis dengan syal melilit lehernya tak jauh beda dengan kemarin) sudah berdiri di depan pintu dengan senyum khasnya yang akhir-akhir ini melekat diingat Nathaniel. Senyum itu terasa menjengkelkan, ngomong-ngomong. "Selamat pagi, Prince Nathaniel," sapanya menelisik pelan Nathaniel —yang sudah memasang wajah jengahnya—dari atas sampai bawah. "Anda menawan sekali hari ini." "Tiap hari kali," responsnya sedikit judes kemudian menutup pintu kamarnya setelah mengatakan pada Naomi bahwa ia akan pergi ke dining room berdua saja dengan Felix. Nathaniel berjalan lebih dulu meninggalkan Felix yang sudah terkekeh melihat tingkah pria itu pagi-pagi. Kakinya mengejar Nathaniel yang sudah berbelok ke tikungan. "Jujur aja, gue kaget banget. Ternyata lo orang yang sama y...

The King (remake) ; Part 102

  "Kalau Pangeran Damian bisa kasih rasa aman ke lo, gimana?" Perkataan Felix malam lalu masih terpikirkan oleh Nathaniel sampai sekarang. Pasalnya ia tak bisa menjawab apa-apa karena merasa gundah dengan perasaannya sendiri. Nathaniel ingin meminta Felix untuk percaya padanya; bahwa ia tidak akan pernah berpaling darinya—tapi, atas dasar apa sehingga Nathaniel bisa seyakin itu mengatakannya pada Felix? Mungkin rasa khawatir Felix mirip seperti apa yang pernah Nathaniel khawatirkan. Ujungnya ini semua tertuju pada perasaan satu sama lain yang sampai sekarang tak bisa Nathaniel mengerti. Entah memang tidak ia mengerti atau Nathaniel sendiri yang masih menyangkalnya terus menerus. " Prince Nathaniel?" "Eh?" Nathaniel mengerjab sebentar—menyadari bahwa ia sekarang berada di tengah aula perayaan ulang tahun Raja Oliver yang sudah berlasung selama setengah jam ini—sebelum menatap ke arah Charlotte yang sedari tadi memanggilnya. Sang putri terlihat sedikit khawa...