Nathaniel benar-benar mengantuk hari ini. Pasalnya ia baru kembali ke kamarnya pukul dua dini hari setelah bertemu dengan Ethan di perpustakaan. Membicarakan tentang Arelian yang sampai sekarang membuat Nathaniel sakit kepala. Saat kembali ke kamarnya pun Nathaniel tidak langsung tidur karena terus memikirkan semua perbincangan mereka (sampai akhirnya ia tertidur juga setelah guling-guling di kasur selama satu jam) tapi sudah tidur pun Nathaniel tidak bisa lepas dari Arelian sampai terbawa mimpi. Dia yakin sekali mimpi itu bukanlah sekedar mimpi; tetapi ingatan tentang masa lalu yang disampaikan untuknya lewat mimpi.
Ketika alarm terakhir ponselnya berbunyi pukul sepuluh pagi, Nathaniel langsung memaksakan tubuhnya untuk bangkit dari kasur. Berjalan gontai menuju kamar mandi, membersihkan diri, lalu duduk di tepi kasur dengan mata terpejam sampai Naomi serta beberapa pelayan datang ke kamarnya. Melihat keadaan Nathaniel tentu membuat Naomi geleng-geleng. Gadis itu langsung mengomel banyak hal mulai dari mengomel Nathaniel yang masih mengantuk padahal sudah tidur lebih lama, Nathaniel yang melewatkan jam sarapannya, Nathaniel yang tidak menjawab kenapa bisa ia mengantuk seperti ini, dan banyak hal. Tapi yang diomeli hanya diam saja sambil didandani oleh para pelayan.
"Masih ada satu jam lagi sampai acara dimulai, lo mau makan sesuatu dulu sebelum berangkat, Prince? Astaga lo harus makan sekarang. Bisa-bisa malah sakit gara-gara engga sarapan." Naomi kemudian bicara pada salah satu pelayan untuk membawakan makanan. Beberapa potong sandwich dan buah serta segelas susu hangat.
Mendengar Naomi menyebut susu hangat, Nathaniel langsung menimpali, "ini di Argata Nao, kenapa harus sama susu hangat sih?"
"Bener juga, ketimbang susu lebih baik lo minum kopi."
"Gue udah engga ngantuk."
"Tapi suara sama tingkah lo kayak orang ngantuk."
Penilaian Naomi tidak sepenuhnya salah karena Nathaniel masih menunjukkan energi tidak bersemangat seperti orang mengantuk. Tapi ia sudah tidak mengantuk seperti sebelumnya. Nathaniel hanya ... merasa energinya terkuras habis perkara semalam. Rasanya ia tidak bersemangat namun ia tidak mungkin absen hari ini. Bisa-bisa akan jadi rumit apalagi jika Leofric tahu.
Pintu kamarnya terbuka begitu pelayan yang ditugaskan membawa sarapan untuk Nathanael tiba. Pelayan wanita itu mendorong troli yang di atasnya tersajikan piring-piring berisi potongan sandwich dan buah apel, beri, serta pisang. Nathaniel juga melihat segelas susu juga kopi yang sempat di ucapkan Naomi. Nathaniel yakin kopi hitam itu sangat pahit. Nathaniel tidak begitu ingin meminumnya. "Gue engga mau minum kopi."
"Yakin lo engga ngantuk nanti di kereta kuda nanti?" Naomi mengambil alih troli membawanya ke samping tempat Nathaniel duduk.
"Yakin," jawabnya memejamkan mata sebentar saat pelayan di sampingnya menyapukan kuas di batang hidungnya dekat dengan ujung matanya. "Susunya aja sini."
Naomi memberikan gelas susu hangat itu pada Nathaniel setelah ia cium aromanya sebentar untuk memastikan susu itu aman. Ini tindakan refleks Naomi setelah kejadian Nathaniel pingsan akibat susu yang ia minum ketika pertemuaan pertamanya dengan Felix tempo lalu. Gadis itu sepertinya menjadi waswas.
"Lo harus makan sandwich juga ya, oh lady tolong pastikan Pangeran Nathaniel memakan sarapannya."
"Sarapan apa jam segini."
"Kenapa juga lewatin jam sarapan buat tidur," balasnya. "Serius deh prince lo abis ngapain sih semalem sampe kekurangan tidur gini?"
Lagi dan lagi.
Naomi pasti akan terus bertanya sampai ia menemukan jawabannya.
Sejujurnya Nathaniel belum mau memberitahu Naomi soal kemarin. Nathaniel masih ragu dan tidak tahu sikap apa yang harus ia lakukan setelah ini. Kepercayaannya pada semua orang mendadak hilang.
Tak ada jawaban apa-apa dari Nathaniel membuat helaan napas Naomi terdengar. Sepertinya Sang Pangeran tidak mau memberitahunya. "Ya udah kalau lo enggak mau ngasih tahu, prince. Tapi yang perlu lo tahu gue selalu ada dipihak lo."
Setelah mengatakan itu dengan menepuk pundaknya Naomi berpamitan untuk menyiapkan keperluan Nathaniel lainnya di luar dan memerintah para pengawal untuk membawa Nathaniel menuju halaman istana setelah para pelayan selesai mendandani Nathaniel. Setelah kepergian Naomi, Nathaniel tidak bisa menahan helaan napasnya karena setidaknya untuk beberapa menit ke depan ia terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang Naomi tanyakan seputar alasannya kekurangan tidur. Nathaniel tidak ingin bercerita dahulu karena perasaannya masih campur aduk antara denial menerima kenyataan ini serta bagaimana perasaannya pada Felix.
"Persiapan anda sudah selesai, Pangeran. Mari ikuti saya menuju halaman istana."
Di dalam mimpinya ia melihat bagaimana kakek dan kakek buyut Felix memperlakukan Agatha serta bangsa Arelian. Begitu sangat ... kejam dan tidak manusiawi hanya karena Agatha tidak bisa memberikan apa yang mereka mau. Bahkan di tengah sakit dan ketidakberdayaannya, mereka masih memaksa Agatha untuk berguna. Menjadikan wanita itu selir dan melahirkan seorang putra yang bahkan langsung mereka rengut dari hak asuhnya.
Bahkan sampai akhir hayatnya; Agatha sama sekali tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari Arabelia.
Maka bagaimana para petinggi Arabelia akan memperlakukannya jika sampai mereka tahu; bahwa Nathaniel adalah seorang Arelian berdarah emas? Meski kenyataan itu belum terbukti sepenuhnya tetapi tidak bisa terpungkiri jika Nathaniel sudah merasa takut.
Bagaimana nasib hidupnya jika sampai para Arelian di Dirgata mengetahui bahwa ia adalah seorang Arelian berdarah emas?
Bagaimana nasib hidupnya jika semua orang yang mengincarnya selama ini tahu akan hal itu?
"Di jalan dan tugas yang akan lo tempuh nanti, sesulit apapun, gue pastiin kalo lo bakal lewatin semuanya tanpa kekurangan sedikitpun."
Ditengah kegundahannya itu ucapan Felix saat acara kelulusan militernya terlintas di kepalanya. Bukan hanya ucapan pria itu tetapi sosoknya pun sudah tertangkap oleh mata Nathaniel. Menyadarkannya bahwa ia sudah tidak berada di kamarnya tetapi di halaman istana yang sudah ramai oleh para tamu bangsawan serta kereta kuda yang akan mereka tumpangi untuk pawai.
Sejak tadi Nathaniel ternyata melamun.
Nathaniel membuang pandangannya cepat begitu Felix menyadari kehadirannya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang hanya karena melihat penampilan Felix yang begitu menawan dengan pakaian kerajaan Arabelia bergaya victorian yang sangat mewah dan teatrikal. Nathaniel tidak menyangka bahwa kombinasi warna hitam dan biru tua akan sangat cocok dipakainya (tapi sepertinya mau warna apapun yang Felix gunakan, semuanya akan terlihat cocok). Mungkinkah karena saking tampannya pria itu sampai-sampai semua yang dikenakannya akan terlihat cocok?
Felix benar-benar seperti seorang pria bangsawan yang keluar dari cerita dongeng yang selalu Jeslyn baca.
Jubah biru tua yang ia kenakan diluar kemeja putih serta vest hitam itu bergerak disetiap langkahnya menuju Nathaniel berada. Rasanya jantung Nathaniel akan melompat keluar saat pria itu berdiri di hadapannya. Meski Nathaniel sudah memalingkan wajah (pura-pura tidak melihat) tetapi ia bisa merasakan keberadaan pria itu.
Kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Selamat siang, Prince Nathaniel. Semoga laksana surya melindungi anda." Nathaniel membungkuk hormat untuk menyapa salam sang Raja. "Apa tidur anda nyenyak pagi ini, Prince?"
Kalimat sapaan dari Felix membuat perempatan siku muncul di kepala Nathaniel. Sang Pangeran tersenyum kiku sambil menegakkan tubuhnya kembali menahan kesalnya karena sepertinya Felix mengetahui bahwa ia baru bangun. "Selamat siang, Yang Mulia. Semoga dewi musim semi melindungi setiap langkah anda." Nathaniel melanjutkan, "sepertinya asisten anda harus mengurangi kebiasaan bertanya aktivitas saya pada Duchess Naomi."
Felix menjawab, "dan anda harus membiasakan diri untuk memberitahu aktivitas anda pada saya, prince."
Mulai lagi.
Felix selalu bisa menjawab setiap keluhannya.
Nathaniel mendengus sebal yang tentu membuat Felix tertawa kecil karena Sang Pangeran selalu terlihat lucu saat sedang kesal. Bagaimana pipi tirusnya itu mengembung dengan bibir merah muda yang mengerucut bisa terlihat menggemaskan (jika mereka tidak ada di ruang publik mungkin Felix sudah mencubit pipi itu saking gemasnya) padahal setelan pakaian pria itu mencerminkan sebaliknya. Pakaian kerajaan Dirgata yang bergaya gothic royal military terlihat sangat ramping di tubuh tegapnya. Terlihat sangat tegas dengan paduan warna hitam pekat serta selempang jubah berwarna merah tersampir di bahu kirinya menjuntai hingga ke tanah.
Seharusnya Nathaniel terlihat sangat tegas tapi disudut pandang Felix; Sang Pangeran justru begitu menggemaskan.
Felix jadi penasaran bagaimana penampilan Nathaniel jika pria itu memakai pakaian kerajaan Arabelia.
Tangan Felix terulur pada Nathaniel disusul Sang Raja yang berlutut di hadapannya. Nathaniel jelas tahu Sang Raja akan melakukan apa makanya ia sedikit terkejut menatap sekitarnya yang ramai. "Maaf terlambat, Prince. Tapi anda sungguh menawan hari ini. Bolehkah saya menyambut anda?"
Berlutut dengan mengulurkan tangan seperti ini adalah tindakan yang sopan bagi para bangsawan untuk memuji penampilan lawan bicara mereka. Tindakan yang biasa dilakukan Nathaniel untuk bertindak sopan memuji para gadis bangsawan yang ia temui disetiap acara—mungkin juga bagi Felix. Tapi, situasi dimana Nathaniel lah yang mendapatkan tindakan itu dari seseorang yang sejak tadi membuat jantungnya berdebar membuat Nathaniel merasa gugup. Tindakan biasa seperti ini menjadi sungguh bermakna karena Felix lah yang melakukannya.
Dengan gugup Nathaniel membalas uluran tangan itu. Kulit mereka tidak bersentuhan secara langsung karena keduanya memakai sarung tangan tetapi Nathaniel dapat merasakan hangatnya sentuhan itu. Begitu punggung tangannya yang terbungkus sarung tangan itu dikecup. Nathaniel merasa gejala kesemutan itu menjalar sampai lengannya.
Nathaniel yakin mereka sudah menjadi tontonan.
Felix kembali berdiri namun tidak melepaskan genggaman tangannya dari Nathaniel. Pria itu mempersilahkan Nathaniel untuk mengikutinya menuju kereta kuda yang sudah terpakir beberapa meter dari mereka—tunggu!
"Kenapa kita menuju kereta kuda yang sama? Bukannya kereta kuda kita berbeda?"
Langkah mereka terhenti dengan Felix yang mengerutkan keningnya. "Apa Lady Naomi tidak memberitahu anda jika kita satu kereta kuda, Prince?"
Nathaniel menggeleng tetapi terdiam karena mengingat-ingat kembali apa Naomi pernah mengatakan bahwa ia satu kereta kuda dengan Felix atau tidak. Tadi di kamarnya Naomi tidak mengatakan apapun soal itu. Mungkinkah melalui chat? Ia merogoh saku celananya untuk mengecek pesan terakhirnya dengan Naomi.
Di sana tertera empat pesan tidak terbaca dari Naomi.
"Anda pasti tidak mengeceknya."
"Kenapa bisa kita jadi satu kereta?"
"Semua bisa dilakukan, Prince."
"Anda pasti menyogok Raja Ethan, kan?"
"Tidak bisa dibilang menyogok, Prince."
Atau mungkin iya? Felix memberikan Ethan sebuah kalung dengan bandul berlian Blue Moon of Josephine yang baru kerajaannya produksi untuknya bisa satu kereta kuda dengan Nathaniel.
Sepertinya itu bisa dibilang menyogok juga.
Melihat ekspresi Felix sekarang sepertinya iya jika pria itu memang melakukan sogok menyogok. Nathaniel sekali lagi mendengus sambil melepaskan genggaman tangan mereka kemudian berjalan lebih dulu menuju kereta kuda.
Lagi-lagi Felix membuat Sang Pangeran kesal.
[]
Komentar
Posting Komentar