Langsung ke konten utama

589. Softlens

Taehyung tidak menyangka jika ia benar-benar akan bertemu dengan bunda Jungkook hari ini seperti janjinya pada Jungkook tempo hari. Kekasihnya itu bilang, jika bunda meminta Taehyung untuk berkunjung ke apartemen Jungkook karena beliau ingin bertemu dengan calon menantu.

    Jujur, saat bunda mengatakan itu di saluran telepon berhasil membuat jantung Taehyung berdebar dan pipinya memanas antara malu dan juga senang. Senang karena orang tua kekasihnya mau menerima Taehyung dan cukup bersyukur karena itu.

    Sesuai janjinya, Taehyung sudah tiba di gedung apartemen tempat Jungkook tinggal. Memarkirkan mobilnya di basement lalu berjalan menuju unit apartemen sang kekasih sambil memainkan ponselnya untuk mengabari Jungkook jika ia sudah tiba di sana. Lagi-lagi perasaan gugup itu muncul di benak Taehyung meski sebenarnya Taehyung sangat tidak sabar untuk bertemu dengan bunda Jungkook. Ingin tahu, apakah bunda akan semirip Jungkook atau tidak? Apakah kepribadiannya mirip dengan Jungkook atau tidak? Apakah sesuai seperti apa yang sering Jungkook ceritakan padanya atau tidak?

    Taehyung ingin tahu itu, ingin tahu wanita yang berhasil melahirkan seseorang se-hebat Jeon Jungkook ke dunia ini.

    Ting!

    Saat pintu lift terbuka, Taehyung dapat melihat Namjoon sedang berjalan ke arahnya, menenteng sebuah plastik besar lalu menyapa Taehyung yang sudah keluar dari lift. "Loh Tae?" sapa Namjoon menghampiri Taehyung. "Lo ngapain di sini? Oh iya juga, mau ketemu Jungkook, ya?"

    "Iya," jawab Taehyung. "Lo mau ke mana, Joon?"

    "Mau ke rumah Seokjin anter ini." Namjoon mengangkat kantung plastik yang berada di genggaman tangannya. "Dari bundanya Jungkook—oh! Gue paham sekarang kenapa bunda masak makan malem banyak banget sampe gue dapet juga, ternyata mau ada lo, Tae." Tawa Namjoon terdengar mengudara, ia menepuk pelan pundak Taehyung yang hanya tersenyum kecil. Astaga ... apa itu berarti bunda sangat menunggu kedatangannya sampai masak banyak sekali?

    "Iya, bunda Jungkook minta gue mampir."

    "Ah begitu, ya udah, gue pergi dulu ya, Tae. Good luck for you ketemu mama mertunya, Tante Somin baik banget kok. Semenjak di sini gue sering banget dimasakin, gue yakin beliau pasti seneng ketemu lo, Tae." Namjoon memberi Taehyung sedikit semangat sambil menepuk bahu Taehyung dua kali sebelum masuk ke dalam lift meninggalkan Taehyung di sana yang kembali melanjutkan langkahnya menuju unit apartemen Jungkook.

    Kekhawatiran Taehyung lenyap begitu saja ketika ia memberanikan diri menekan bel unit apartemen Jungkook dan pintu langsung dibuka oleh sang empunya. Adik kelasnya itu tampak sangat manis di balik kaos hitam bertuliskan I'm a good boy juga celana jeans pendek yang membungkus kaki jenjangnya ketika menyambut dirinya. Berbeda dengan Taehyung yang masih memakai seragam sekolahnya di balik jaket biru dongker yang ia kenakan.

    Ia baru saja pulang les omong-omong.

    Ketika Taehyung masuk lebih dalam; Taehyung langsung disapa oleh seorang wanita yang Taehyung yakini sebagai bunda. Tunggu! Apa benar wanita ini bunda Jungkook? Atau malah kakaknya? Tapi seingat Taehyung, Jungkook adalah anak tunggal. Tidak mungkin juga wanita ini adalah kakaknya Jungkook, bukan? Tapi kalau memang bunda ... kenapa wajahnya terlihat sangat muda sekali?

    "Nak?" Bunda menepuk pundak Taehyung yang tampak melamun saat sedang mencium punggung tangannya. Taehyung buru-buru memperbaiki raut wajahnya agar tidak terlalu kentara jika Taehyung sedang melamun.

    "Ah, maaf tante." Taehyung tersenyum sopan.

    "Jangan panggil tante, panggilnya bunda aja, ya? Kayak Jungkook manggil bunda, biar lebih akrab sama calon menantu."

    Blush!

    Pipi Taehyung memerah mendengar bunda menyebutnya calon menantu lagi namun kali ini secara langsung. Meskipun nada bicara bunda terdengar bergurau, tetapi mampu membuat Taehyung bersemu. "A--apa sih bunda, emangnya Kak Taehyung mau punya mertua kayak bunda?"

    "Oh tentu aja mau, buktinya Taehyung mau sama kamu?"

    "Tapi aku engga cerewet kayak bunda ya."

    "Bunda juga engga nyebelin kayak kamu." Bunda mencubit pipi anak semata wayangnya gemas sedangkan yang dicubit hanya mengaduh. "Iya kan, Nak? Jungkook tuh nyebelin banget, mana keras kepala, gengsian lagi."

    "Loh, bunda kok jadi jelekin anaknya di depan pacar anaknya sendiri sih?" Jungkook mencebikkan bibirnya sebal karena bunda berhasil menggoda dirinya.

    "Tapi kenyataannya gitu kan? Tuh, Taehyung aja setuju kok sampe ketawa gitu."

    Taehyung refleks terdiam karena bunda tiba-tiba menyebut namanya. Apa tadi ia tanpa sadar menggerakkan bibirnya dan tertawa? Meski memang Taehyung sedikit setuju dengan ucapan bunda, tetapi yang membuatnya tertawa saat ini, karena melihat interaksi kedua ibu dan anak itu yang sangat lucu dan unik di matanya. Karena menuruntya, tidak semua anak bisa seakrab itu dengan orang tua mereka seperti bunda dan Jungkook, dan Taehyung cukup iri melihatnya.

    Melihat bagaimana bunda menatap Jungkook penuh kasih sayang dan memperlakukan Taehyung seperti putranya sendiri. Saat makan malam pun, bunda bertanya banyak hal pada Taehyung dan Jungkook. Bagaimana mereka bisa pacaran, kenapa Taehyung bisa tertarik dengan Jungkook yang kelakuannya benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda dengannya. Meski di tengah perbincangan hangat itu, Taehyung dapat melihat Jungkook dan bunda saling berdebat satu sama lain. Benar-benar afeksi yang belum pernah Taehyung rasakan sebelumnya.

    Bunda juga banyak cerita tentangnya dan bagaimana Jungkook di matanya. Kata bunda, Jungkook mirip sekali dengan ayahnya. Sifatnya, wajahnya, dan kelakuannya. Membuat Taehyung jadi makin penasaran untuk bertemu dengan ayah Jungkook meski ia sudah melihatnya lewat foto yang bunda tunjukkan.

    Taehyung juga baru tahu jika bunda ternyata seorang dokter hewan dan bekerja di vet clinic milik mertuanya. "Masa SMA, apalagi kelas dua belas tuh sangat berat menurut bunda. Itu masa di mana kita berpikir lebih dalam lagi soal; mau lanjut ke mana setelah ini? Mau jadi apa kita setelah ini? Apalagi kalau keinginan kita sama orang tua kita engga sejalan, lebih berat lagi rasanya." Taehyung terdiam beberapa saat ketika bunda bicara seperti itu, ia menatap bunda di hadapannya yang tersenyum kecil.

    "Bener bunda." Taehyung menyetujui itu karena dirinya memang sedang merasakannya dan berada di posisi itu.

    "Dulu juga bunda sama orang tua bunda engga punya satu keinginan yang sama."

    "Oiya?"

    Bunda mengangguk. "Iya, orang tua bunda maunya bunda jadi chef biar bisa nerusin usaha resto keluarga sedangkan bunda maunya jadi dokter hewan." Taehyung membola, cukup terkejut mendengarnya. Lantas, bagaimana bisa bunda menjadi dokter sekarang? Bukannya orang tua bunda tidak menginginkan hal itu? Seperti tahu apa yang sedang Taehyung tanyakan dalam hatinya, bunda menjawab, "Bunda nekat daftar jurusan dokter hewan waktu itu tanpa bilang orang tua bunda."

    "Oh? Terus gimana bunda?"

    "Sempet ada berantem dulu sih sama orang tua bunda," tawanya lalu melanjutan, "tapi setelah itu, orang tua bunda akhirnya mengerti dan menerima keputusan bunda setelah bertemu ayah Jungkook."

    "Ayah Jungkook?"

    "Iya, Kak. Soalnya ayah punya nasib yang sama kayak bunda, cuman di balik aja," timpal Jungkook di samping Taehyung. "Ayah mau jadi , cuman orang tuanya mau ayah jadi dokter hewan buat nerusin usaha vet clinic."

    Taehyung makin dibuat terkejut mendengarnya karena--wow ... bagaimana bisa seperti itu?

    "Dulu ini apartemen milik ayahnya Jungkook semasa kuliah. Bunda ketemu ayah Jungkook di sini," ujar bunda yang lagi-lagi membuat Taehyung membola. Kenapa mirip sekali dengannya dan Jungkook? Mereka pertama kali bertemu di unit apartemen Namjoon tanpa sengaja meskipun pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik karena Taehyung yang menganggap Jungkook buruk saat itu.

    "Kalau dipikir-pikir sedikit aneh, bukan? Tapi begitulah takdir, kadang memang membingungkan, Nak." Bunda tersenyum kecil. "Sebenarnya, tindakan bunda saat itu juga tidak sepenuhnya benar. Tapi waktu itu, bunda sudah punya keputusannya, meskipun akan berakhir buruk, tapi bunda engga akan menyesalinya karena itu keputusan bunda. Karena pastinya, setiap keputusan yang bunda ambil saat itu, pasti akan ada plus minus, bukan? Tapi bunda percaya, setiap hal yang kita lalui pasti ada hikmahnya."

    Taehyung terdiam setelah mendengar perkataan bunda yang berhasil sampai pada relung hatinya. Benar, Taehyung menyetujui itu. Entah ucapan bunda atau ucapan Jungkook saat itu tentang bundanya. Sekali lagi, Taehyung benar-benar bersyukur bertemu bunda, bersyukur jika beliau yang selama ini telah menjaga dan mengajari Jungkook banyak hal.

    Tapi sejujurnya perkataan bunda memang sangat cocok sekali dengan keadaan mereka sekarang.

    "Iya, benar bunda."

    Karena keputusan apa pun yang akan mereka ambil nanti; semua akan ada resikonya, entah buruk ataupun baik; hanya semesta yang tahu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The King (remake) ; Part 84

  TERNYATA benar apa kata Felix. Argata masih menjaga ciri khas Kerajaan Kuno abad lalu dilihat dari arsitektur bandara yang masih terkesan klasik dengan pilar-pilar besar serta ukiran artistik yang terkesan mewah dengan hanya sekali pandang. Tidak hanya dikejutkan dengan desain bangunan bandara, Nathaniel juga dikejutkan dengan kereta kuda yang sudah menunggu. Siap membawa rombongannya menuju Istana Argata yang katanya akan memakan waktu enam jam perjalanan dengan kereta itu. Ini adalah pertama kalinya Nathaniel menaiki kereta kuda. Kerajaannya sudah memasuki modernisasi sejak ia lahir sehingga kereta kuda seperti ini sudah ditinggalkan oleh kerajaannya dan beralih pada kendaraan bertenaga olahan minyak bumi. Tentu karena tak perlu memakan banyak waktu sehingga membantu para bangsawan mengefisiensi waktu. Meski demikian, pembelajaran berkuda tetap diikuti oleh para bangsawan dan Nathaniel sangat menyukai itu. Tapi tentu ada harga yang harus dibayar untuk itu semua. Nathaniel akui ...

The King (remake) ; Part 89

  KEESOKAN harinya Felix benar-benar menjemput Nathaniel di kamarnya untuk pergi ke dining room bersama, sesuai dengan pesan Naomi semalam. Tentu melihat pria itu (yang hari ini memakai pakaian empat lapis dengan syal melilit lehernya tak jauh beda dengan kemarin) sudah berdiri di depan pintu dengan senyum khasnya yang akhir-akhir ini melekat diingat Nathaniel. Senyum itu terasa menjengkelkan, ngomong-ngomong. "Selamat pagi, Prince Nathaniel," sapanya menelisik pelan Nathaniel —yang sudah memasang wajah jengahnya—dari atas sampai bawah. "Anda menawan sekali hari ini." "Tiap hari kali," responsnya sedikit judes kemudian menutup pintu kamarnya setelah mengatakan pada Naomi bahwa ia akan pergi ke dining room berdua saja dengan Felix. Nathaniel berjalan lebih dulu meninggalkan Felix yang sudah terkekeh melihat tingkah pria itu pagi-pagi. Kakinya mengejar Nathaniel yang sudah berbelok ke tikungan. "Jujur aja, gue kaget banget. Ternyata lo orang yang sama y...

The King (remake) ; Part 102

  "Kalau Pangeran Damian bisa kasih rasa aman ke lo, gimana?" Perkataan Felix malam lalu masih terpikirkan oleh Nathaniel sampai sekarang. Pasalnya ia tak bisa menjawab apa-apa karena merasa gundah dengan perasaannya sendiri. Nathaniel ingin meminta Felix untuk percaya padanya; bahwa ia tidak akan pernah berpaling darinya—tapi, atas dasar apa sehingga Nathaniel bisa seyakin itu mengatakannya pada Felix? Mungkin rasa khawatir Felix mirip seperti apa yang pernah Nathaniel khawatirkan. Ujungnya ini semua tertuju pada perasaan satu sama lain yang sampai sekarang tak bisa Nathaniel mengerti. Entah memang tidak ia mengerti atau Nathaniel sendiri yang masih menyangkalnya terus menerus. " Prince Nathaniel?" "Eh?" Nathaniel mengerjab sebentar—menyadari bahwa ia sekarang berada di tengah aula perayaan ulang tahun Raja Oliver yang sudah berlasung selama setengah jam ini—sebelum menatap ke arah Charlotte yang sedari tadi memanggilnya. Sang putri terlihat sedikit khawa...