Langsung ke konten utama

169. The King

Jeongguk menatap gadis di hadapannya yang sedang meneguk segelas vodka setelah sesi makan malam mereka berakhir. Jeongguk pun melakukan hal yang sama, meminum cairan yang sama dengan Dahyun perlahan karena takut jika ia minum terlalu banyak akan membuatnya mabuk. Akan sangat bahaya jika sampai Jeongguk membuat dirinya mabuk, karena sampai sekarang, ia masih tidak tahu apa motif sang princess memintanya makan malam bersama.

    Karena sedari tadi, gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berbicara seperlunya atau bertanya seadanya meskipun masih bersikap sangat ramah padanya. Tidak ada perbincangan yang serius di antara keduanya membuat Jeongguk makin curiga pada gadis itu. Tidak mungkin juga Dahyun mengajaknya makan malam tanpa sebuah sebab bukan?

    Lantas, Jeongguk bertanya, "Princess Dahyun, boleh gue tanya satu hal sama lo?"

    Dahyun menoleh pada Jeongguk di hadapannya lalu menyimpan gelas vodka miliknya pada meja. Melipat kedua lengannya di atas meja dengan pandangan ramahnya yang tentu saja ada maksud tertentu di sana. "Sure, mau tanya apa, prince?" tanya Dahyun.

    "Kenapa lo tiba-tiba ngajak gue makan malam?" Jeongguk bertanya, tatapannya berubah serius karena ia ingin Dahyun menjawabnya dengan hal yang sama. Bukan dengan candaan atau jawaban asal.

    "Kenapa emang? Apa lo keberatan, prince?" Dahyun balik bertanya.

    "Engga, gue engga keberatan," jawabnya. "Cuman, gue bingung aja kenapa lo tiba-tiba ngajak gue makan malam gini. Apa mungkin ada alasan kenapa lo ngajak gue?"

    Dahyun menyunggingkan senyumnya disusul tawanya yang lolos karena sang pageran yang rupanya sudah lebih dulu berburuk sangka padanya. Apa Jeongguk sangat tidak percaya padanya semenjak dia membohongi Jeongguk beberapa waktu lalu? Atau karena Taehyung sudah memperingati pria itu tentang dirinya? "Wah ... apa ini tandanya lo curiga sama gue, prince?"

    Lagi-lagi gadis itu menjawabnya dengan pertanyaan. "Gue engga curiga sama lo, princess. Kayak yang gue bilang tadi, gue harap lo jawab pertanyaan gue, bukan malah balik bertanya." Jeongguk memperingatin tetapi Dahyun sepertinya tidak gentar meski sudah diperingatkan seperti tadi. Apa begini karakter dan sifat yang dibagun oleh seorang mata-mata? Jeongguk sama sekali tidak bisa membaca ekspresi yang lawannya buat.

    "Sorry, prince." Dahyun menjawabnya dengan kekehan diujung kalimatnya, ia lalu menjawab pertanyaan Jeongguk, "Gue cuman mau lebih akrab sama lo, itu saja."

    Apa? hanya itu?

    Melihat Jeongguk yang masih belum percaya dari mimik wajahnya, Dahyun lalu melanjutkan. "Ya terserah sih lo mau percaya atau engga, tapi gue engga salah kan kalau mau akrab sama kakak ipar gue sendiri?" Jeongguk bahkan hampir lupa jika Dahyun adalah salah satu sepupu Taehyung yang paling dekat dengannya. Tapi jika alasannya hanya seperti itu, bukannya itu terlalu simple bagi Dahyun?

    "Jujur, gue engga percaya."

    Seringai Dahyun terbentuk. "Kenapa? Apa karena Kak Taehyung peringatin lo buat hati-hati sama gue?"

    What? Jeongguk tersentak mendengar Dahyun dapat mengetahuinya. Beberapa menit lalu sebelum bertemu dengan Dahyun, Taehyung sempat mengirimkan pesan padanya untuk berhati-hati dengan gadis itu. Lalu kenapa Dahyun dapat mengetahuinya? Apa gadis itu melihat ponsel Taehyung?

    "Well, kalau lo lupa, gue mata-mata. Membaca gerak gerik seseorang dan isi hatinya sangat mudah bagi gue." Suara Dahyun terdengar memotong kebingungan Jeongguk. "Gue tahu apa yang lagi lo pikirin, dan lo bisa tahu itu dari mimik wajah.  Kadang, mereka yang tidak bisa mengatur emosi pada mimik wajah, kesulitan untuk menyembunyikan isi hati mereka, bukan? Tapi, bagi seseorang yang bisa mengatur emosi pada mimik wajah, mudah bagi mereka untuk menutupi dan hal itu sungguh buruk untuk seorang detektif karena mereka tidak bisa menginterogasi dengan mudah." Jeongguk mengerti apa maksud dari ucapan Dahyun, karena mungkin sekarang, di mata Dahyun, Jeongguk termaksud seseorang yang tidak dapat mengatur emosi mimik wajahnya. Karena gadis itu memiliki kemampuan analisis yang baik.

    "I know you're the best spy on Arabelian, Princess."

    Jeongguk tahu itu, dan karena itulah ia memiliki firasat yang buruk tentang pertemuan mereka. Sekali lagi, Dahyun tidak mungkin menemuinya tanpa sebuah maksud terselubung. "Tapi gue tahu, you want something from me, u'm ... information, maybe?"

    "Where did you get that opinion from?"

    "Just a hunch."

    "Firasat?" Dahyun tertawa dengan nada meremeh.

    Sejujurnya, Dahyun tidak menyangka jika Jeongguk akan kukuh dengan kecurigaannya meskipun sudah ia coba untuk mengalihkan asumsi pria itu. Tapi ternyata, sang pangeran memang memiliki firasat yang tajam padanya, pendiriannya pun sulit untuk diruntuhkan mirip seperti seseorang yang sangat Dahyun kenal dan benci. "Baiklah ... karena gue hargain kegigihan lo, gue akan ngaku sekarang." Wajah Dahyun yang semula ramah dan hangat berubah serius di detik berikutnya, benar-benar berbeda dari Kim Dahyun sedetik yang lalu dan perubahan itu membuat Jeongguk terkejut.

    Dahyun lalu berkata dengan suara pelan. "Ya, gue memang mau cari informasi tentang lo sebanyak-banyaknya, Prince Jeongguk."

    "Informasi tentang gue? Untuk apa?" Jeongguk mengerutkan dahinya tak mengerti. Untuk apa Dahyun ingin mengumpulkan informasi tentang dirinya jika informasi itu bisa ia dapatkan di perpustakaan kerajaan? Jeongguk bahkan tidak ingat apakah ia habis melakukan kekacauan semalam—sampai harus dibuntuti seperti ini—atau tidak. "Engga ada yang menarik dari gue, tuh?"

    Dahyun tertawa mendengarnya, tidak ada yang menarik? Huh! Apa Jeongguk masih tidak menyadari tentang jati dirinya? Apa dia tidak tahu atau terpikirkan sekalipun jika dia adalah seseorang yang speasial dan hanya Dirgata yang memilikinya? Juga ... apa Jeongguk tidak tahu jika ia adalah keturunan murni dari bangsa Arelian?

    "No, prince. Lo menarik banget tanpa lo sadari."

    "Karena?"

    "Lo."

    "Gue? Maksud—"

    "Lo punya darah Arelian, prince."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The King (remake) ; Part 84

  TERNYATA benar apa kata Felix. Argata masih menjaga ciri khas Kerajaan Kuno abad lalu dilihat dari arsitektur bandara yang masih terkesan klasik dengan pilar-pilar besar serta ukiran artistik yang terkesan mewah dengan hanya sekali pandang. Tidak hanya dikejutkan dengan desain bangunan bandara, Nathaniel juga dikejutkan dengan kereta kuda yang sudah menunggu. Siap membawa rombongannya menuju Istana Argata yang katanya akan memakan waktu enam jam perjalanan dengan kereta itu. Ini adalah pertama kalinya Nathaniel menaiki kereta kuda. Kerajaannya sudah memasuki modernisasi sejak ia lahir sehingga kereta kuda seperti ini sudah ditinggalkan oleh kerajaannya dan beralih pada kendaraan bertenaga olahan minyak bumi. Tentu karena tak perlu memakan banyak waktu sehingga membantu para bangsawan mengefisiensi waktu. Meski demikian, pembelajaran berkuda tetap diikuti oleh para bangsawan dan Nathaniel sangat menyukai itu. Tapi tentu ada harga yang harus dibayar untuk itu semua. Nathaniel akui ...

The King (remake) ; Part 89

  KEESOKAN harinya Felix benar-benar menjemput Nathaniel di kamarnya untuk pergi ke dining room bersama, sesuai dengan pesan Naomi semalam. Tentu melihat pria itu (yang hari ini memakai pakaian empat lapis dengan syal melilit lehernya tak jauh beda dengan kemarin) sudah berdiri di depan pintu dengan senyum khasnya yang akhir-akhir ini melekat diingat Nathaniel. Senyum itu terasa menjengkelkan, ngomong-ngomong. "Selamat pagi, Prince Nathaniel," sapanya menelisik pelan Nathaniel —yang sudah memasang wajah jengahnya—dari atas sampai bawah. "Anda menawan sekali hari ini." "Tiap hari kali," responsnya sedikit judes kemudian menutup pintu kamarnya setelah mengatakan pada Naomi bahwa ia akan pergi ke dining room berdua saja dengan Felix. Nathaniel berjalan lebih dulu meninggalkan Felix yang sudah terkekeh melihat tingkah pria itu pagi-pagi. Kakinya mengejar Nathaniel yang sudah berbelok ke tikungan. "Jujur aja, gue kaget banget. Ternyata lo orang yang sama y...

The King (remake) ; Part 102

  "Kalau Pangeran Damian bisa kasih rasa aman ke lo, gimana?" Perkataan Felix malam lalu masih terpikirkan oleh Nathaniel sampai sekarang. Pasalnya ia tak bisa menjawab apa-apa karena merasa gundah dengan perasaannya sendiri. Nathaniel ingin meminta Felix untuk percaya padanya; bahwa ia tidak akan pernah berpaling darinya—tapi, atas dasar apa sehingga Nathaniel bisa seyakin itu mengatakannya pada Felix? Mungkin rasa khawatir Felix mirip seperti apa yang pernah Nathaniel khawatirkan. Ujungnya ini semua tertuju pada perasaan satu sama lain yang sampai sekarang tak bisa Nathaniel mengerti. Entah memang tidak ia mengerti atau Nathaniel sendiri yang masih menyangkalnya terus menerus. " Prince Nathaniel?" "Eh?" Nathaniel mengerjab sebentar—menyadari bahwa ia sekarang berada di tengah aula perayaan ulang tahun Raja Oliver yang sudah berlasung selama setengah jam ini—sebelum menatap ke arah Charlotte yang sedari tadi memanggilnya. Sang putri terlihat sedikit khawa...